Thursday, October 23, 2014

Foto Kampfgeschwader 40 (KG 40)

 Sebuah pesawat maritim jarak jauh Focke-Wulf Fw 200 "SG+KS" dari I.Gruppe / Kampfgeschwader 40 (KG 40) dengan anggunnya sedang terbang di udara dengan latar belakang langit biru dan awan putih. Foto oleh Walter Frentz di tahun 1941. Pesawat ini adalah ancaman utama jalur pelayaran Sekutu di samudera Atlantik, bersama dengan kawanan U-boat Dönitz. Sayangnya, di tahun-tahun pertama Perang Dunia II (1939-1941), perkembangan penerbangan laut kurang mendapat tempat dalam rencana strategis Luftwaffe sehingga peran penting pesawat semacam Fw 200 "Condor" kurang dimaksimalkan. Ketika di pertengahan perang perannya baru dilirik, semuanya sudah terlambat. Hal ini disebut-sebut sebagai salah satu kesalahan terbesar Luftwaffe dalam Perang Dunia II!


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.en.wikipedia.org

Foto Adolf Hitler dan Binatang Peliharaannya


Foto terkenal yang diambil oleh Walter Frentz di Berghof Obersalzberg tahun 1942 ini memperlihatkan Adolf Hitler bersama dengan anjing gembala Jerman peliharaannya yang bernama Blondi. Nantinya Blondi akan melahirkan lima ekor anak anjing, dengan salah satu di antaranya menjadi favorit Hitler dan dinamakan dengan "Wolf" (sesuai dengan julukan Hitler sendiri). Pada bulan April 1945 anjing kesayangan Hitler ini dieksekusi di dalam Führerbunker menggunakan potasium sianida atas suruhan majikannya sementara anak-anaknya ditembak mati oleh perwira SS, semuanya demi mencegah mereka jatuh ke tangan pasukan Soviet yang sedang mendekati bunker Berlin! 


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Album Foto karya Fotografer Pribadi Hitler Walter Frentz

 Adolf Hitler saat baru tiba di lapangan udara Berlin-Tempelhof dengan latar belakang pesawat angkut pribadinya yang baru tanggal 6 Juli 1939. Di sebelah kiri (menghadap ke belakang) adalah pilot pribadinya (Flugkapitän) SS-Gruppenführer Hans Baur, sementara yang sedang ngobrol dengan Hitler memakai topi putih adalah ajudan dari Luftwaffe Hauptmann Nicolaus von Below. Selain itu, yang tersenyum di belakang Hitler dengan memakai seragam hitam Allgemeine-SS M32 adalah ajudannya yang lain, SS-Gruppenführer Julius Schaub. Perwira Luftwaffe yang memakai kacamata di belakang adalah Oberst Victor Carganico (Kommandant des Flughafens Berlin-Tempelhof), ayah dari Horst Carganico yang nantinya menjadi jagoan udara Luftwaffe ternama. Foto oleh Walter Frentz (fotografer pribadi Hitler). Pesawat yang digunakan Hitler untuk runtang-runtung dinamai "Grenzmark", sebuah pesawat dari jenis Focke-Wulf 200A-0 (S-8 ) "Condor", werknummer 3098 dengan nomor registrasi D-ACVH. Pesawat ini mulai digunakan untuk tugas-tugas kenegaraan dari tanggal 30 Juni 1939. Di musim gugur tahun yang sama, setelah perang pecah antara Jerman dan Inggris-Prancis, nomor registrasinya dirubah menjadi WL-ACVH selama beberapa minggu untuk kemudian diganti lagi menjadi AC+VH (Balkenkreuz ditambahkan di antara huruf). Pesawat ini ikut digunakan sebagai alat angkut pasukan dalam invasi Jerman ke Norwegia bulan April 1940 dengan menggunakan nomor registrasi NK+NM. Riwayatnya berakhir saat hancur dalam pendaratan darurat di Orel (Rusia) tanggal 23 Desember 1941


 Si ganteng SS-Obersturmführer Max Wünsche (SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler") berpose santai sambil mengigit pipa cangklong dalam foto yang diambil oleh salah seorang fotografer pribadi Hitler, Walter Frentz, tanggal 15 Mei 1940. Mantep nggak seragam yang dikenakannya? Sekedar informasi, seragam dan insignia SS (Schutzstaffel) dirancang oleh SS-Oberführer Prof. Dr. Karl Diebitschen sementara desain grafisnya oleh SS-Sturmhauptführer Walter Heck. Perusahaan Hugo Boss diserahi kepercayaan untuk memproduksi seragam ini bersama dengan seragam punya Hitlerjugend


 Sebuah pesawat maritim jarak jauh Focke-Wulf Fw 200 "SG+KS" dari I.Gruppe / Kampfgeschwader 40 (KG 40) dengan anggunnya sedang terbang di udara dengan latar belakang langit biru dan awan putih. Foto oleh Walter Frentz di tahun 1941. Pesawat ini adalah ancaman utama jalur pelayaran Sekutu di samudera Atlantik, bersama dengan kawanan U-boat Dönitz. Sayangnya, di tahun-tahun pertama Perang Dunia II (1939-1941), perkembangan penerbangan laut kurang mendapat tempat dalam rencana strategis Luftwaffe sehingga peran penting pesawat semacam Fw 200 "Condor" kurang dimaksimalkan. Ketika di pertengahan perang perannya baru dilirik, semuanya sudah terlambat. Hal ini disebut-sebut sebagai salah satu kesalahan terbesar Luftwaffe dalam Perang Dunia II!


 15 Juli 1941: Seorang tawanan Soviet (yang tampaknya adalah keturunan Asia) sedang diperiksa mulutnya oleh SS-Obersturmbannführer Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt) tak lama setelah dimulainya Operasi Barbarossa. Foto oleh Walter Frentz. Para ilmuwan SS dan ahli rasial Jerman lainnya sangat tertarik dalam mengklasifikasikan tipe ras yang berbeda-beda di Timur demi mencari contoh ras yang cocok untuk di-Jermanisasi


 Reichsführer-SS Heinrich Himmler (kiri) bersama dengan seorang anak Ukraina yang akan dimasukkan ke Program Lebensborn. Foto diambil oleh Walter Frentz di Minsk (Belorusia) tanggal 15 Agustus 1941. Di sebelah kiri adalah SS-Obersturmführer Josef "Sepp" Kiermaier (supir pribadi sekaligus bodyguard Himmler), sementara di tengah berdiri SS-Gruppenführer Karl Wolff (Chef des Hauptamtes Persönlicher Stab Reichsführer-SS). Lebensborn (Benih Kehidupan) sendiri adalah program Nazi yang dicanangkan oleh Himmler untuk memberi perlindungan terhadap anak-anak yatim-piatu, janda tentara SS serta wanita yang hamil di luar nikah dengan cara menyediakan tempat pengasuhan untuk anak-anak mereka. Program ini secara ketat hanya memasukkan anak-anak yang dianggap "pantas" secara rasial. Lebih lengkapnya tentang Lebensborn bisa dilihat DISINI... eh, DISINI!


Foto terkenal yang diambil oleh Walter Frentz di Berghof Obersalzberg tahun 1942 ini memperlihatkan Adolf Hitler bersama dengan anjing gembala Jerman peliharaannya yang bernama Blondi. Nantinya Blondi akan melahirkan lima ekor anak anjing, dengan salah satu di antaranya menjadi favorit Hitler dan dinamakan dengan "Wolf" (sesuai dengan julukan Hitler sendiri). Pada bulan April 1945 anjing kesayangan Hitler ini dieksekusi di dalam Führerbunker menggunakan potasium sianida atas suruhan majikannya sementara anak-anaknya ditembak mati oleh perwira SS, semuanya demi mencegah mereka jatuh ke tangan pasukan Soviet yang sedang mendekati bunker Berlin!


 Hitler bersama dengan para petinggi Nazi di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg) di hari ulangtahunnya yang ke-53 tanggal 20 April 1942. Dari kiri ke kanan: Großadmiral Erich Raeder (membelakangi kamera, Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Reichsleiter Dr. Robert Ley (Reichsorganisationsleiter der NSDAP), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im OKW, Oberkommando der Wehrmacht), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Karl Wolff (Verbindungsoffizier zischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier), SS-Oberführer Prof. Dr.ing. Ferdinand Porsche (Wehrwirtschaftsführer), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), dan SS-Obergruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Reichsminister ohne Portfeuille und Chef der Reichskanzlei). Foto oleh Walter Frentz


Perundingan di markas besar Heeresgruppe Süd di Poltava tanggal 1 Juni 1942. Dari kiri ke kanan: Generalmajor Adolf Heusinger (Chef der Operationsabteilung des Generalstabes im Oberkommando des Heeres); General der Infanterie Georg von Sodenstern (Chef des Generalstabes Heeresgruppe Süd); Generaloberst Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Oberbefehlshaber 2.Armee); Adolf Hitler; General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6.Armee); General der Kavallerie Eberhard von Mackensen (Kommandierender General III.Panzer-Korps); dan Generalfeldmarschall Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd). Foto oleh fotografer pribadi Hitler Walter Frentz


Foto oleh Walter Frentz ini memperlihatkan jamuan minum di Führerhauptquartier Werwolf untuk merayakan ulang tahun ke-35 Oberstleutnant Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler") tanggal 20 September 1942. Duduk mengelilingi meja dari kiri ke kanan: NSKK-Gruppenführer Albert Bormann (Chef Hauptamt I [Leiter der Privatkanzlei des Führers] in Führerkanzlei), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Chefadjutant des Führers Adolf Hitler), Kapitän zur See Karl-Jesko von Puttkamer (Marine-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), Major Gerhard Engel (Heeres-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), SS-Hauptsturmführer Richard Schulze-Kossens (SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), Johanna Wolf (Sekretärinnen Adolf Hitlers), dan Nicolaus von Below


Foto karya Walter Frentz ini memperlihatkan Adolf Hitler beraudiensi tak lama setelah upacara penganugerahan Eichenlaub dan Schwertern untuk para perwira Luftwaffe yang telah membuktikan keberanian mereka di medan pertempuran. Tempat upacaranya adalah di Berghof, Obersalzberg, sementara untuk tanggalnya adalah 4 April 1944. Dari kiri ke kanan: Major Werner Streib (Geschwaderkommodore Nachtjagdgeschwader 1. Schwertern #54, 11 Maret 1944), Hauptmann Gerhard Barkhorn (Gruppenkommandeur II.Gruppe / Jagdgeschwader 52. Schwertern #52, 2 Maret 1944), Oberst Erich Walther (Kommandeur Fallschirmjäger-Regiment 4 / 1.Fallschirmjäger-Division. Eichenlaub #411, 2 Maret 1944), Major Kurt Bühligen (Gruppenkommandeur II.Gruppe / Jagdgeschwader 2 "Richthofen". Eichenlaub #413, 2 Maret 1944), Hauptmann Hans-Joachim Jabs (Gruppenkommandeur IV.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1. Eichenlaub #430, 24 Maret 1944), Major Bernhard Jope (Geschwaderkommodore Kampfgeschwader 100. Eichenlaub #431, 24 Maret 1944), Major Reinhard Seiler (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Jagdgeschwader 54. Eichenlaub #419, 4 Maret 1944), Major Hansgeorg Bätcher (tertutup oleh Hitler. Gruppenkommandeur I. Gruppe / Kampfgeschwader 4 "General Wever". Eichenlaub #434, 24 Maret 1944), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Hauptmann der Reserve Horst Ademeit (Gruppenkommandeur I. Gruppe / Jagdgeschwader 54. Eichenlaub #414, 2 Maret 1944), Major Johannes Wiese (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Jagdgeschwader 52. Eichenlaub #418, 2 Maret 1944), Wachtmeister Fritz Petersen (Geschützführer 6.Batterie / Flak-Regiment 4 [motorisiert]. Eichenlaub #438, 26 Maret 1944), Major Dr.jur. Maximilian Otte (GruppenKommandeur II.Gruppe / Schlachtgeschwader 2 "Immelmann". Eichenlaub #433, 24 Maret 1944), dan Oberleutnant Walter Krupinski (Staffelkapitän 7.Staffel / Jagdgeschwader 52. Eichenlaub #415, 2 Maret 1944). Sebenarnya terdapat satu orang lagi penerima: Leutnant Erich Hartmann (Staffelkapitän 9.Staffel / Jagdgeschwader 52. Eichenlaub #420, 2 Maret 1944), tapi entah kenapa dia tidak nongol dalam foto ini!


Salah satu set kereta mainan milik Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe). Pada bulan Maret 1945 Walter Frentz, salah seorang fotografer pribadi Hitler, membuat foto berwarna ini, yang diambilnya di kediaman Göring di Carinhall. Kebanyakan dari kereta mainan ini kemudian hancur atau hilang tak tentu rimbanya

----------------------------------------------------------

 Dr. Claude (Claudius) Honoré Desiré Dornier (14 Mei 1884 - 5 Desember 1969) adalah perancang pesawat sekaligus pendiri Dornier Flugzeugwerke keturunan Prancis. Pesawat-pesawat hasil karyanya di antaranya adalah Dornier Do 18 dan "perahu terbang" Dornier Do X bermesin 12 yang selama beberapa dekade menjadi pesawat terbesar sekaligus terkuat. Namanya juga mengemuka dalam sejarah penerbangan Jerman karena konsepnya yang unik dalam hal instalasi mesin multi pesawat terbang. Pesawat ciptaannya kadang kala dilengkapi oleh baling-baling ganda di depan dan belakang dalam konfigurasi tarik-dorong


Dr. Ernst Heinkel (24 Januari 1888 - 30 Januari 1958) adalah perancang sekaligus produsen pesawat, Wehrwirtschaftsführer (pembuat mesin dan perlengkapan perang untuk keperluan Wehrmacht), dan anggota Partai Nazi. Perusahaan Heinkel Flugzeugwerke yang dipimpinnya memproduksi Heinkel He 178, pesawat turbojet pertama di dunia, serta Heinkel He 176, pesawat berbahan bakar roket pertama. Atas jasa-jasanya, pada tahun 1938 dia dianugerahi Deutscher Nationalpreis für Kunst und Wissenschaft (Penghargaan Nasional Jerman untuk Seni dan Keilmuan)


Wilhelm Emil "Willy" Messerschmitt (26 Juni 1898 - 15 September 1978) adalah pembuat pesawat terkemuka yang terutama terkenal melalui pesawat Messerschmitt Bf 109 yang menjadi pesawat pemburu utama Jerman dalam Perang Dunia II. Sampai pada detik ini, Bf 109 tercatat sebagai pesawat pemburu yang paling banyak diproduksi dalam sejarah: 35.000 buah! Pesawat lainnya - Messerschmitt Me 209 - menjadi pemecah rekor sebagai pesawat berbaling-baling paling cepat sampai dengan tahun 1969. Perusahaannya juga memproduksi pesawat jet pertama di dunia yang masuk proses produksi yaitu Messerschmitt Me 262, meskipun secara pribadi dia tidak merancangnya


Sumber :
Buku "Hitler’s Personal Pilot: The Life and Times of Hans Baur" karya C.G. Sweeting
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org
www.forum.axishistory.com
www.spiegel.de
www.ullsteinbild.de
www.walter-frentz.de
www.wehrmacht-awards.com

Tuesday, October 21, 2014

Foto Olahraga dan Kompetisi Ski

Seorang anggota SS dalam sebuah Skimeisterschaft (Kompetisi Ski) yang diselenggarakan sebelum Perang Dunia II. Elang yang terpasang di topinya merupakan elang SS versi pertama (1927-1936), sementara topi yang dikenakannya adalah skimütze (topi ski) pola pertama juga yang mempunyai warna abu-abu tanah. Dalam beberapa penerbitan, topi jenis ini sering disalahartikan sebagai bergmütze (topi gunung) karena bentuknya yang sangat mirip


 Skimeisterschaften (Kompetisi Ski) di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Para pesertanya berasal dari unit-unit SS und Polizei seperti SD (Polisi rahasia) dan Ordnungspolizei (Polisi Umum). Mereka mengenakan bergmütze (topi gunung) Allgemeine-SS yang berwarna hitam. Di tempat ini terdapat pula Polizei-Skischule yang melatih para calon polisi berski. Nama kompetisinya adalah "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft"


 SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939


 SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Dia mengenakan Deutsches Reiterabzeichen (German Horseman's Badge) di bawah medali Goldenes Parteiabzeichen der NSDAP dan DRL Sportabzeichen


 Kurt Daluege dan Reinhard Heydrich dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei), Oberstleutnant der Schutzpolizei Karl Heinrich Brenner (Gruppenleiter "Sport" in Kommandoamt der ORPO Hauptamt), SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitspolizei), dan Hauptmann der Schutzpolizei Wilhelm Becker (Adjutant Chef der Ordnungspolizei)


Selain kompetisi ski yang diikuti para anggota SS dan Polizei, pada tahun 1939 di Kitzbühel (Austria) diadakan pula kompetisi ski untuk para anggota Wehrmacht (Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine). Para pesertanya mendapat kenang-kenangan sebuah pin khusus yang memajang Reichskriegsflagge, Adler Wehrmacht, Gamsbock dan ski di atas peta "Jerman Raya"


Sumber :
www.commons.wikimedia.org
www.wehrmacht-awards.com

Serangan Pasukan Katak Regia Marina ke Pelabuhan Alexandria




Oleh : Waffen Armee

Setelah mengalami kekalahan atas Inggris dalam Pertempuran Tanjung Matapan (28 Maret 1941), Regia Marina (Angkatan Laut Italia) mulai menyusun rencana pembalasan. Rencana balas dendam ini sebenarnya termasuk bagian dari komando operasi komando elit Decima Flottiglia MAS sejak tahun 1940 sebagai upaya melumpuhkan kekuatan angkatan laut Inggris di pelabuhan Alexandria. Senjata yang akan digunakan ialah senjata khusus yang ujungnya dilengkapi hulu ledak seberat 220 kg. Senjata bawah air ini disebut SLC (Siluro a Lento Corsa).

SLC sendiri adalah torpedo yang membutuhkan penunggang untuk mengendalikannya, dan merupakan senjata rahasia Italia di Perang Dunia II. Torpedo ini memiliki panjang 5,5 m dengan diameter 0,5 m dan digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan kecepatan 4 km/jam. Senjata ini mampu menjangkau jarak hingga 16 km. Selain itu, senjata ini juga dapat bergerak hingga di kedalaman 30 m, cukup aman untuk bersembunyi dari pantauan kapal-kapal pengintai.

Satu bulan kemudian Italia mengirimkan kapal selam Gondar yang membawa 3 SLC beserta 6 operator SLC dan 2 cadangan menuju Alexandria. Di antara para operator itu ada Tenente (Letnan) Elios Toschi sang penemu SLC. Tetapi di perjalanan mereka dipergoki kapal perusak Australia HMAS Stuart dan langsung dihujani serangan. Gondar mendapat kerusakan namun masih mampu menyelam. Kesialan tidak berhenti sampai disini. Keesokan harinya ketika harus naik ke permukaan untuk mengisi baterai, Gondar dipergoki pesawat patroli Short Sunderland dan diserang. Spontan Gondar lumpuh.

Menyadari serangan ke Alexandria tidak mungkin dilakukan, Capitano (Kapten) Fransesco Brunetti memerintahkan awaknya untuk meninggalkan Gondar. Khawatir Gondar akan jatuh ke tangan Inggris, ia pun memerintahkan agar menenggelamkan Gondar. Semua awak yang selamat ditawan termasuk Tenente Elios Toschi. Namun ia berhasil melarikan diri  dan mencapai pelabuhan di Goa, India. Setelah repatriasi, ia berhasil pulang ke Italia dan kembali bergabung dengan Regia Marina.

Setelah mempelajari kegagalan-kegagalan yang terjadi, Regia Marina mulai mempelajari dengan seksama gerak-gerik musuhnya. Akhirnya diputuskan kapal-kapal yang akan dijadikan target penyerangan: HMS Furious, HMS Valliant dan HMS Queen Elizabeth (kapal bendera Laksamana Sir Andrew Cunningham).

Pada 3 Desember 1941, operasi dilaksanakan. Dengan menggunakan kapal selam Scirè, mereka membawa diam-diam 3 SLC meninggalkan pangkalan La Spezia. Dalam waktu 6 hari perjalanan mereka di Leros, Yunani. Setiap awak di dalamnya siaga satu, tidak ada seorang pun yang boleh meninggalkan kapal meski untuk sekedar membeli rokok. Demi kerahasiaan operasi, intelijen Italia memberi rumor bahwa kapal selam Scirè mengalami kerusakan yang menyebabkannya harus berlabuh di Leros untuk diperbaiki.

Beberapa hari kemudian, pesawat amfibi yang membawa 10 anggota Regia Marina datang. Mereka lah yang akan menunggangi SLC dalam operasi yang mendapat sebutan Operasi GA-3 ini, yaitu:

1. SLC 221, ditunggangi oleh Capitano Luigi Durand De La Penne dan Tenente Emilio Bianchi. Target mereka adalah HMS Valiant.

2. SLC 222, ditunggangi oleh Capitano Antonio Marceglia dan Tenente Spartaco Schergat dengan target HMS Queen Elizabeth

3. SLC 223, ditunggangi oleh Capitano Vincenzo Martellotta dan Tenente Mario Marino dengan target HMS Furious atau HMS Illustrious.

Malam hari pada tanggal 18 Desember 1941, kapal selam Scirè dibawah komando Capitano Junio Borghese mendekati Alexandria. Setelah situasi dirasa aman, Scirè mulai naik ke permukaan. Sebelum para penunggang SLC berangkat, Il Capitano memberi taklimat. Jika misi berhasil, mereka akan dijemput di Rosetta. Namun jika misi gagal atau dibatalkan, mereka akan dianggap hilang atau tewas.

Kendala muncul saat mereka hampir tiba di Alexandria, yakni jaring baja anti kapal selam. Hal ini yang kurang dicermati oleh intelijen Italia. Sangat tidak mungkin untuk menggergaji jaring baja ini. Akhirnya kesempatan datang ketika pukul 02.30 dini hari tanggal 19 Desember 1941, tiga kapal perusak dan satu kapal pengangkut hendak memasuki Alexandria. Melihat keberuntungan menghampiri mereka, Capitano De La Penne dan kawan-kawan segera mengikuti konvoi itu dari belakang. Setelah berhasil memasuki Alexandria, mereka berpencar mencari sasaran masing-masing.

De La Penne dan Bianchi tidak kesulitan menemukan HMS Valiant. Namun kapal ini juga dilindungi oleh jaring baja anti kapal selam. Mereka pun mencoba mendorong sekuat tenaga. Tetapi saat akan berhasil, SLC mereka menyentuh sisi kapal. Ujung SLC yang bermagnet dan tangan mereka yang mulai membeku membuat SLC sulit ditarik. Bianchi mencoba mencari cara lain, namun peralatan renang miliknya rusak. Ia pun terhempas ke permukaan bagaikan torpedo yang melesat. Kini tinggal De La Penne yang bekerja sendirian. Ia langsung memasang waktu peledak dan meninggalkan HMS Valliant dengan cepat. Bukannya melarikan diri, dengan kesetiaan kawannya ia malah menyertai Bianchi hingga mereka tertangkap.

Marceglia dan Schergant juga berhasil menemukan HMS Queen Elizabeth. Mereka segera memasang waktu peledak dan buru-buru naik ke daratan. Setelah mencabut semua atribut kemiliteran, mereka kemudian mengenakan seragam sipil dan langsung mencari jalan menuju Rosetta. Mereka tertangkap akibat keteledoran intelijen Italia, saat mereka membelanjakan mata uang Inggris yang sudah tidak berlaku.

Nasib sial juga menghampiri Martellotta dan Marino. Mereka tidak menemukan target meski sudah berkeliling mencari target. Belakangan target yang mereka cari sudah meninggalkan Alexandria, 2 hari yang lalu. Setelah bosan berkeliling mereka akhirnya memilih target lain, kapal tanker besar Sargona yang berbobot 7.750 ton milik Norwegia. Tepat di sebelah Sargona ada kapal perusak HMS Jervis. Mereka akhirnya tertangkap juga saat mencapai daratan oleh patroli Inggris yang mulai bersiaga setelah tertangkapnya De La Penne dan Bianchi. Mereka langsung dibawa ke markas intelijen Royal Navy. Keempat manusia katak ini kontan diinterogasi habis-habisan. Namun mereka tetap "tutup mulut".

Sir Andrew pun terbangun dari tidurnya, dan memerintahkan penyelam untuk menyisir seluruh pelabuhan. Namun sia-sia saja karena waktu yang mereka miliki sangat sempit.

Ledakan pertama pun terjadi dari kapal Sargona. Sir Andrew bahkan sampai terpental. HMS Jervis turut mendapat kerusakan parah. Ledakan kedua menyusul dari HMS Queen Elizabeth. Kapal ini bahkan terangkat lima kaki dari permukaan air akibat ledakan dari bawah. Dan yang terakhir ledakan dari HMS Valliant.

Setelah peristiwa itu Italia tidak pernah mengusahakan pembebasan mereka.



RAF Medmenham, Upaya Sekutu Menghancurkan Fasilitas Roket Jerman




Oleh : Waffen Armee


Peringatan 70 tahun D-Day 6 Juni 2014 lalu masih menyisakan berbagai kenangan dalam diri veteran Perang Eropa. Salah satunya adalah tentang kisah divisi pemotretan udara  AU Inggris  yang namanya  jarang dipublikasikan. Peran mereka selalu tenggelam di balik kesangaran epik skuadron-skuadron kombatan Sekutu. Setidaknya sampai suatu ketika mereka menggelar serangkaian operasi foto udara yang amat menentukan akhir Perang Eropa. Berkat operasi ini lah, kini, hampir semua negara menyadari pentingnya unit pemotretan udara.
 
Tanpanya, Perang Eropa atau Perang Dunia II mungkin akan berakhir beda. Hal ini dinilai tak berlebihan jika mengetahui peran divisi pemotretan udara di RAF (Royal Air Force) Medmenham dalam pencarian bunker-bunker penyimpanan V-1 dan V-2. Keduanya adalah senjata rahasia sekaligus senjata pamungkas Jerman yang amat menakutkan. Warga Inggris, termasuk tentara Sekutu, tak akan pernah bisa melupakan bunyi desis keras setiap kali bom-bom terbang itu akan menukik dan meluluhlantakkan apa aja yang ada di hadapannya.

V-1 adalah sejenis rudal darat ke-darat, sementara V-2 bisalah jika disebut sebagai roket balistik berhulu ledak tinggi.  Jika disimak dari bentuknya, tak bisa dipungkiri, keduanya adalah embrio rudal jelajah dan rudal balistik antar benua yang hingga sekarang masih menjadi momok masyarakat dunia.
 
Dalam Perang Eropa, Inggris dan ibukota London adalah sasaran utama karena dari tempat inilah Jerman tahu Sekutu mengatur semua rencana serangan ke Jerman dan semua wilayah yang di duduki Nazi. V-1 tercatat mulai menyerang  sejak 13 Juni 1944 atau sekitar seminggu setelah Panglima Sekutu Jenderal Dwight D. Eisenhower melancarkan serangan pembuka (D-Day) ke Normandia. Sementara V-2 mulai menghujani tempat yang sama  tiga bulan kemudian. Serangan ini hampir tak bisa ditangkis karena tak ada satu pun senjata anti serangan udara yang mampu menghadangnya di tengah jalan. Tak heran, jika horor yang tercipta pun amat membekas dalam diri setiap penduduk dan tentara yang bertugas di Inggris.
 
Horor yang paling menakutkan dan meruntuhkan nyali, utamanya adalah V-1. Dari kejauhan, bom terbang ini menciptakan bunyi desis yang lambat laun semakin keras sebelum akhirnya menukik dan membumihanguskan benda apa saja yang dihantamnya. Itu sebab, arsenal yang satu ini kerap disebut buzz bomb atau doodle bugs karena “kehadirannya” mirip serangan sekelompok serangga raksasa. Sejak 13 Juni itu, pimpinan Nazi Jerman Adolf Hitler setidaknya  telah memerintahkan untuk meluncurkan 100 unit V-1. Akibat serangan ini, lebih dari 6.000 penduduk London tewas, 17.000 terluka dan ribuan gedung runtuh.
 
V-1 yang bentuknya seperti pesawat terbang tanpa awak diluncurkan dengan ketapel lalu melesat dengan kecepatan 350 mil/jam di ketinggian 3.000 kaki. Di mocong setiap arsenal seberat dua ton ini, termuat 2.000 pon bahan peledak. Meski ratusan pesawat Spitfire telah dikerahkan untuk memburu sejadi-jadinya, sangat sedikit  yang benar-benar mampu menjatuhkannya di tengah jalan. Petaka dan kengerian yang ditimbulkan V-2 lebih-kurang mirip dengan V-1.

Jerman telah meluncurkan sekitar 4.300 unit V-2 ke arah daratan Inggris, yang efek ledakannya kemudian membunuh 2.500 orang dan melukai 6.000 orang lainnya.
 
Tak kurang dari PM Inggris Winston Churchill dan Panglima Sekutu Dwight D. Eisenhower dibuat pusing menghadapi senjata yang tak pernah mereka bayangkan ini. Mereka sempat memerintahkan upaya pencarian situs-situs peluncuran dan pemboman terukur ke sejumlah tempat yang dicurigai, yakni di wilayah Perancis. Namun, Jerman terlalu pintar untuk menyamarkan situs-situs tersebut sehinga tak mudah dikenali dari udara. Situs-situs peluncurannya pun disebar di berbagai negara, sehingga selalu memiliki kesempatan menyerang manakala situs yang lain diserang lawannya.
 
Apakah Sekutu tak mampu mengantisipasi kehadiran arsenal yang kerap disebut Hitler sebagai The German’s Secret Revenge Weapons itu? Sebenarnya tidak juga. Dari pertanyaan ini lah  kemudian merebak kisah tentang peran perwira mapun akademisi yang bekerja di RAF Medmenham  dalam peringatan D-Day kemarin, juga tentang Operasi Hydra dan Crossbow yang mereka jalankan. Kedua operasi disadari jarang diceritakan, karena selalu tenggelam dengan kisah-kisah heroik lain yang lebih menarik disimak kalangan muda di Eropa.

Operasi Hydra dan Crossbow
Meski seratus  V-1 dan ribuan  V-2 telah membumihanguskan Inggris dan London, kehancuran yang lebih besar diam-diam sesungguhnya telah ditepis  RAF Medmenham. Dari markas yang terletak di Danesfiled House, Buckinghamshire, Inggris itulah,  para ahli interpretasi foto udara  telah berhasil “mengungkap” fasilitas perancangan/pembuatan serta bunker-bunker penyimpanan kedua bom pintar, jauh sebelum serangan ke Inggris itu terjadi. Berkat temuan ini pula selanjutnya rencana peluncuran ribuan V-1 dan V-2 berhasil digagalkan.

Fasilitas dan bunker-bunker itu dibombardir lewat serangkaian serangan udara. Dalam catatan resmi pasukan Sekutu, misi pemboman digelar lewat Operasi Hydra pada 17/18 Agustus 1943, dan kedua, Operasi Crossbow pada November 1943. Hydra digelar untuk menghancurkan fasilitas perancangan serta uji-coba V-1 dan V-2 di Peenemunde, pesisir di sebelah barat Jerman yang menghadap ke Laut Baltik. Sementara  Crossbow diarahkan untuk menghancurkan pusat peluncuran V-1 dan V-2 di La Coupole, Pas-de-Calais, Perancis – yang posisinya sudah head-on dan siap menyerang Inggris dari jarak dekat.

Crossbow sendiri bisa dibilang merupakan kelanjutan Hydra. Operasi ini digelar dengan semangat tinggi karena Sekutu semakin meyakini bahwa Jerman serius membangun persenjataan khusus yang memang dikerjakan untuk memenangkan Perang Eropa.

Inisiatif Hydra sendiri, alkisah, dimulai secara kebetulan setelah dinas intelijen Inggris, MI6, mengintersep surat rahasia berisi upaya pengembangan senjata rahasia Jerman pada November 1939. Surat ini ditulis oleh seseorang dalam perjalanan ke Oslo, Norwegia, yang bekalangan diketahui merupakan ahli matematika dan fisikawan Jerman bernama Hans Ferdinand Mayer. Tapi untuk beberapa waktu MI6 tak memberi respon yang memadai.  Kuatir isinya berupa jebakan, mereka hanya berujar: “Too good to be true.”

Tak demikian respon yang diberikan RAF Medmenham. Untuk memastikan kebenaran isi surat tersebut, mereka mengerahkan penerbangan Spitfire dan Hurricane  menyusup ke berbagai tempat di wilayah musuh dan melakukan pemotretan udara di sana. Penerbangan yang sebenarnya terbilang nekad ini akhirnya sampai pada serangkaian foto yang memperlihatkan fasilitas yang aneh. Kening para analis para Photographic Interpreter (PI) berkerut ketika pandangan mata mereka tertuju pada sederetan bangunan mirip fasilitas pengembangan senjata. Tapi sampai titik itu, mereka tak pernah tahu senjata jenis apa yang tengah dikembangkan Jerman, karena Sekutu tak pernah punya padanannya.

Untuk memastikan fasilitas tersebut, pihak Inggris pun mengintrogasi sejumlah tawanan dan intel Polandia, dan PM Inggris Winston Churchill selanjutnya memutuskan untuk membom. Tapi lokasi fasilitas ini tak mudah ditembus. Letaknya jauh di belakang garis pertahanan lawan. “Oleh karena Peenemunde di luar jangkauan sinyal radio navigasi, pemboman harus dilakukan saat terang bulan. Kita tak bisa menjamin keselamatan mereka, jika di sana mereka berhadapan dengan para penempur Jerman. Tapi, walau bagaimanapun, sasaran itu harus dimusnahkan!” Demikian seru Churchill.



Marder




Oleh : Hostuf Ajisaka

Marder adalah model-model tank dari tank destroyer Jerman yang diproduksi untuk menggantikan peran dari Panzerjäger. Ada tiga seri Marder, yaitu Marder I, Marder II, dan Marder III. Marder I mulai diproduksi pada akhir 1941 untuk menghadapi T-34 Uni Soviet. Untuk keperluan ini, Panzerjäger tidak efektif, karena meriam 47 mm sama sekali tidak dapat menembus pelindung T-34. Maka, militer Jerman mendesain tank destroyer baru yang lebih kuat dengan memakai meriam 75 mm.


1. Marder I



Marder I di tahun 1943


Alfred Becker di dalam pabrik konstruksinya di Kota Paris

 Generalfeldmarschall Erwin Rommel ketika menginspeksi Divisi Panzer ke-21 bersama General Feuchtinger dan Major Becker pada Mei 1944, di Normandia

Marder I mulai diproduksi pada Mei 1942 dengan nama 7.5 cm Pak 40/1 auf Geschützwagen Lorraine Schlepper (f), SdKfz 135. Ide perancangan Marder I didapatkan dari Kapten Alfred Becker dari Divisi Infanterie ke-227. Dia adalah orang yang pertama kali memiliki ide untuk menempatkaan beberapa meriam artileri di atas beberapa chassis traktor pengangkut Perancis Tracteur Blinde 37L (Lorraine) yang berhasil dirampas sebanyak 300 unit selama Blitzkrieg. Pimpinan militer Jerman menindaklanjuti hasil percobaan Kapten Becker dengan memasang meriam antitank 75 mm PaK 40 L/46. Marder I pertama kali tampil di medan tempur Rusia pada tahun 1942.

Pada pertengahan Juli dan Agustus 1942, 170 unit Marder telah dibuat dengan memakai chassis Lorraine. Kemudian, beberapa tank Perancis dan tank Polandia lainnya juga dikonversi sebagai dasar pembuatan Marder I, termasuk Hotchkiss H39 dan FCM 36. Marder I pada umumnya digunakan di Front Timur dan telah banyak membawa kesuksesan. Kemudian mereka pun menjadi komponen yang sangat penting pada Divisi lapis baja Divisi Panzer ke-21 di Normandia.


2. Marder II



 Marder II (Sd.Kfz. 131) di wilayah Uni Soviet pada tahun 1943

 Marder II mulai diproduksi pada Juni 1942 dengan menggunakan chassis Panzer II. Senjata yang digunakan sama dengan Marder I, yaitu 75 mm PaK. Beberapa unit juga ada yang menggunakan 76,2 mm (76,2 mm PaK 36 L/.51,5) yang berasal dari meriam-meriam antitank milik Uni Soviet yang berhasil dirampas. Ada beberapa versi dari Marder II, dan yang terpenting ada dua, Sd.Kfz. 132 (Sonderkraftfahrzeug 132) dan Sd.Kfz. 131. Versi Sd.Kfz. 132 dibuat dengan chassis Panzer II Ausf. D dan E, dengan meriam 76,2 mm. Sedangkan Sd.Kfz. 131 dibuat dengan chassis Panzer II Ausf. A, B, dan C. Versi ini didesain ulang untuk memperluas kompartmen awak dan memakai meriam 75 mm PaK 40 L/46.


3. Marder III



 Marder III diproduksi dengan nama resmi Panzerjäger 38(t) für 7.62 cm PaK 36(r), Sd.Kfz. 139 dan memakai chassis  Panzer 38(t). Marder versi ini meskipun memakai meriam 76,2 mm tetapi telah dimodifikasi sehingga dapat menembakkan amunisi 75 mm standar Jerman. Selain meriam, Marder III juga dilengkapi dengan sebuah senapan mesin 7,92 MG 37. Model ini kemudian didesain ulang dengan memindahkan mesin ke belakang, dan selanjutnya diberi nama 7,5 cm PaK 40/3 auf Panzerkampfwagen 38(t) Ausf. H, Sd.Kfz. 138.

Pada model berikutnya, yaitu Panzerjäger 38(t) mit 7.5 cm{aK 0/3 Ausf. M, Sd,Kfz 138, senapan mesin tidak lagi dipasang pada badan tank, melainkan dilepas dan dibawa oleh kru. Semua model dari Merden terbuka pada bagian atas, sehingga tidak ada pelindung pada bagian atas.

Marder dikenal cukup handal dan strategis. Jarang sekali mengalami masalah mesin seperti overheatiing, terutama untuk chassis Panzer 38(t). Satu-satunya kelemahan adalah bagian atas yang terbuka membuat Marder tidak cocok untuk digunakan dalam pertempuran kota maupun hutan belantara, karena awaknya memiliki resiko yang sangat tinggi untuk menjadi sasaran empuk sniper lawan yang bersembunyi di gedung-gedung tinggi, atau pun serangan udara.



Statistis Marder:
A. Kelas : Light Tank Destroyer
B. Berat :
-) 8 ton (Marder I)
-) 10,7 ton (Marder II Sd.Kfz. 132, Sd.Kfz. 131)
-) 10,3 ton (Marder III Sd.Kfz. 139)
-) 10,8 ton (Marder III Sd.Kfz. 138)
C. Senjata Utama :
-) 75 mm PaK 40 L/46 (Marder I, Marder II Sd.Kfz 131, Marder III Sd.Kfz. 138)
-) 76,2 mm PaK 36 L/51,5 (Marder II Sd.Kfz. 132, Marder III Sd.Kfz. 139)
D. Jumlah Kru : 5 orang
E. Pelindung :
-) 5 – 10 mm (Marder I)
-) 5 – 30 mm (Marder II)
-) 10 – 50 mm (Marder III)
F. Kecepatan :
-) 35 km/jam (Marder III Sd.Kfz . 138)
-) 38 km/jam (Marder I)
-) 40 km/jam (Marder II Sd.Kfz. 131)
-) 42 km/jam (Marder III Sd.Kfz 139)
-) 55 km/jam (Marder II Sd.Kfz. 132)


Sumber :
-Darmawan, Muh. Daud (2010). "Kendaraan Tempur Perang Dunia II". Penerbit NARASI
-www.en.wikipedia.org
-www.acemodel.com.ua



Foto Pertempuran Spartakovka (Agustus 1942)

Serangan pasukan Jerman dari Gruppe Drumpen terhadap posisi pertahanan Soviet di Spartakovka di pagi hari tanggal 24 Agustus 1942 didahului oleh bombardir artileri dari meriam-meriam 88mm serta bom-bom yang dijatuhkan oleh pembom tukik Junkers Ju 87B "Stuka". Deretan Panzerkampfwagen III telah siap untuk bergerak maju begitu tembakan artileri berhenti


Dalam Pertempuran Spartakovka (24 Agustus 1942), sebuah tank berat KV-1 Soviet terbakar hebat setelah mendapat hantaman peluru dari meriam anti-tank Jerman. Meskipun dalam pertempuran ini 16. Panzer-Division mencatat beberapa kesuksesan dalam fase awal, mereka mendapati pertahanan musuh makin menguat, terutama di perbatasan terluar kota Stalingrad. Beberapa tank Soviet yang melakukan serangan balasan bahkan sampai menembus pos komando Panzergrenadier-Regiment 64!


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad

Monday, October 20, 2014

Schellenbaum (Jingling Johnnie)




Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Wilayah ini menjadi akar sengketa antara Jerman dan Lithuania dimana pada tanggal 20 Maret 1939 (hanya lima hari setelah Jerman mencaplok Cekoslowakia) Hitler mengultimatum Menteri Luar Negeri Lithuania Juozas Urbšys untuk mengembalikan wilayah tersebut ke tangan Jerman (yang dihadiahkan ke Lithuania oleh Sekutu seusai Perang Dunia Pertama) atau angkatan perangnya akan menyerbu negara di kawasan Baltik tersebut. Akhirnya dua hari kemudian pemerintahan Lithuania menyerah pada tekanan Jerman. Pendudukan Memel adalah akuisisi teritorial terakhir Jerman sebelum Perang Dunia II Pecah. Dalam foto ini sedikit muka-muka mesum yang teridentifikasi: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 4. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 5. Major Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), 6. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 7. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)

 
Salah satu "pengisi acara" dalam upacara penghormatan untuk Legion Condor yang dihelat di lapangan Lustgarten, Berlin, tanggal 6 Juni 1939. Instrumen di atas (yang biasa dikenal sebagai "Jingling Johnnie" oleh orang Inggris) namanya adalah "Schellenbaum", sedangkan bendera yang ditambahkan di dalamnya dinamakan dengan "Schellenbaumflagge"


Prajurit-prajurit Wehrmacht berbaris di sepanjang rute parade di Champs-Élysées, Paris, dipimpin oleh seorang Obermusikmeister dari Musikkorps unitnya. Reichsadler divisi (Schellenbaumflagge) dari 30. Infanterie-Division bisa terlihat di latar belakang, di atas Schellenbaum (Jingling Johnnie). Perhatikan bahwa mereka memakai sepatu pendek bergaiter dan bukannya sepatu boot yang sedikit lebih tinggi. Pada waktu pendudukan Jerman (1940-1944), warga kota Paris biasanya bercanda tentang ketepatan waktu parade pasukan Wehrmacht yang tak terkalahkan: "Apa sebabnya Champs-Élysées dibatasi oleh pepohonan? ... supaya orang-orang Jerman dapat berbaris di bawah bayangannya!" Foto oleh André Zucca



Sumber :
Foto koleksi Hugo Jaeger
www.forum.axishistory.com
www.life.com
www.peopleus.blogspot.com