Thursday, July 30, 2015

Foto Pertempuran Korsun-Cherkassy

PERAIH RITTERKREUZ

Oberleutnant der Reserve Rudolf Bayer (10 Maret 1917 - 14 Juli 1944) menjadi anggota RAD-Abteilung 3/323 sebelum masuk dinas kemiliteran pada tanggal 14 November 1938. Dia ikut serta dalam kampanye militer Jerman di Prancis dan Rusia sebagai anggota 112. Infanterie-Division. Setelah unitnya hancur lebur dan dibubarkan pada tanggal 2 November 1943, Bayer masuk menjadi anggota Divisionsgruppe 112 yang merupakan campuran dari divisi lama beserta beberapa divisi lain yang sama-sama dibubarkan. Pada Pertempuran Cherkassy awal tahun 1944, unitnya berusaha menerobos kepungan Soviet di tengah musim dingin yang ganas. Disinilah Komandan Peleton Bayer menunjukkan puncak kemampuannya dengan berkali-kali berduel mati-matian agar tentara musuh tidak menganggu gerakan mundur pasukan Wehrmacht. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 21 Februari 1944 sebagai Oberfeldwebel dan Zugführer di 14.(Panzerjäger)Kompanie / Regimentsgruppe 110 / Divisionsgruppe 112 / Korps-Abteilung B / XXXXII.Armeekorps / 8.Armee / Heeresgruppe Süd. Tak lama kemudian Divisionsgruppe 112 dibentuk ulang menjadi Grenadier-Regiment 110 (bagian dari 88. Infanterie-Division) karena anggotanya yang semakin menyusut. Saat itu Bayer telah menjadi Komandan Kompi ke-14. Pada tanggal 13 Juli 1944 Bayer terluka parah dan koma dalam pertempuran sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di Feldlazarett (motorisiert) 28. Meskipun telah dilakukan operasi bedah untuk menyelamatkan nyawanya, dia tetap tak tertolong dan meninggal keesokan harinya pada pukul 07:15 pagi. Dia kemudian dimakamkan dengan penuh kehormatan di Heldenfriedhof Sokal. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (1 Februari 1942) und I.Klasse (19 Agustus 1943); Verwundetenabzeichen in Silber (19 Oktober 1941); Infanterie-Sturmabzeichen in Bronze (20 Januari 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); Panzervernichtungsabzeichen in Silber (23 Agustus 1943); serta Nahkampfspange in Bronze (28 November 1943)


Sumber :
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de

Wednesday, July 29, 2015

Foto 26. Panzer-Division

PERAIH RITTERKREUZ

Hauptmann Franz Bayer (3 Februari 1920 - ? ) dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Mei 1945 sebagai Hauptmann dan Kommandeur I.Abteilung / Panzer-Regiment 26 / 26.Panzer-Division / 10.Armee / Heeresgruppe C. Beberapa ketidakjelasan timbul di sekitar proposalnya. Pertama: tidak jelas mana yang menjadi unit Bayer saat itu: apakah 26. Panzer-Division ataukah Panzergrenadier-Division Großdeutschland (saya mengambil versi pertama dari Walther-Peer Fellgiebel), kedua: pada saat hampir bersamaan (Januari 1945) dua pihak mengajukan proposal penganugerahan Ritterkreuz bagi Bayer (I./26.Pz.Div. dan III.Panzerkorps), tidak diketahui manakah yang akhirnya diterima. Parahnya lagi, selama beberapa waktu proposalnya tidak tersentuh dan baru diproses beberapa hari menjelang berakhirnya perang, sehingga ketika pada akhirnya disetujui (9 Mei 1945), dia sudah masuk ke kategori "Dönitz-Erlaß" yang dianggap tidak sah oleh Deutsche Dienststelle (WASt). Bayer sendiri mendapatkan medali bergengsi tersebut setelah dalam pertempuran di Komarom periode 22-24 Desember 1944, detasemennya (yang berkekuatan hanya 17 panzer) berhasil menghancurkan 73 tank, 26 senjata anti-tank, dan 17 kendaraan Soviet lainnya, sementara hanya menderita 1 panzer yang menjadi korban! Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (1 Oktober 1941) und I.Klasse (20 Oktober 1941); Verwundetenabzeichen in Schwarz (10 Januari 1942); Panzervernichtungsabzeichen in Silber (18 Agustus 1942); Deutsches Kreuz in Gold (7 Oktober 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (12 Agustus 1942); Verwundetenabzeichen in Gold (1943); serta Panzerkampfabzeichen III.Stufe "50" (27 April 1944)


Sumber :
Foto koleksi pribadi Paul D.
www.warrelics.eu

Foto 5. Fallschirmjäger-Division

PERAIH RITTERKREUZ

Leutnant Friedrich Bausch (6 Agustus 1915 - 21 April 1971) lahir di Schluckenau/Bohemia ketika wikayahnya masih menjadi bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Beberapa tahun kemudian tempat kelahirannya menjadi bagian dari Cekoslowakia dan Bausch menjadi seorang Volksdeutsche (Jerman Perantauan). Ketika Nazi Jerman menganeksasi negaranya pada tahun 1938, Bausch otomatis menjadi warga negara Jerman yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota Wehrmacht, dan dia memilih Luftwaffe. Dalam Perang Dunia II dia terlibat dalam banyak aksi pertempuran, diantaranya yang paling menonjol adalah Pertempuran Kreta, Unternehmen Barbarossa, Pengepungan Leningrad, Pertempuran Sisilia, Pertempuran Monte Cassino, Pertempuran Normandia, Operation Cobra, Pertempuran Ardennes, dan Kantong Ruhr. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 12 Maret 1945 sebagai Leutnant dan Führer 3.Kompanie / Fallschirm-Pionier-Bataillon 5 / 5.Fallschirmjäger-Division / LXVI.Armeekorps / 5.Panzerarmee. Setelah perang usai dia menjadi ayah dari tiga orang anak dan bekerja di tempat penyewaan mobil. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (Januari 1942) und I.Klasse (Maret 1942); Fallschirmschützenabzeichen; Erdkampfabzeichen der Luftwaffe; Nahkampfspange in Silber; serta Deutsches Kreuz in Gold (1 Januari 1945)


Sumber :
www.das-ritterkreuz.de

Tuesday, July 28, 2015

Foto Sturmgeschütz-Abteilung 286 / Sturmgeschütz-Brigade 286

KOMMANDEUR


 Major der Reserve Dr.jur. Albert Bausch (2 Juli 1904 - 29 Agustus 1944) bergabung dengan 4.Batterie / Artillerie-Regiment 75 pada tanggal 21 Desember 1937. Pada bulan Desember 1940 dia berstatus sebagai Führerreserve (cadangan aktif) untuk belajar cara pengoperasian StuG (Sturmgeschütz). Pada awal kampanye Jerman di Rusia, dia merupakan anggota Sturmgeschütz-Abteilung 275. Setelah sempat dipindahkan ke Sturmgeschütz-Abteilung 226, Bausch lulus dari pendidikan komandan Sturmartillerie pada tanggal 1 Oktober 1943 dan langsung dipercaya sebagai Komandan Sturmgeschütz-Abteilung 286. Pada bulan Desember 1943 Bausch dengan sukses memimpin unitnya menghancurkan lebih dari 70 tank Rusia, ditambah dengan 21 senjata anti-tank serta beberapa bunker pertahanan musuh. Sampai saat itu Bausch pribadi tercatat telah menghancurkan 29 tank. Atas prestasinya tersebut dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 10 Februari 1944 sebagai Hauptmann der Reserve dan Kommandeur Sturmgeschütz-Abteilung 286 / LII.Armeekorps / 8.Armee / Heeresgruppe Süd. Sebagai tambahan, dia juga naik pangkat menjadi Major d.R. Beberapa bulan kemudian, sang komandan pemberani gugur dalam pertempuran di Piatra Neamt (Rumania). Bausch dinominasikan untuk mendapatkan Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes. Heerespersonalamt menerima proposal penganugerahannya pada tanggal 11 Oktober 1944. Sayangnya, proses lebih lanjut kasus ini tidak terdokumentasikan, meskipun bisa dipastikan bahwa dia telah tertolak. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (13 Juni 1940) und I.Klasse (6 Oktober 1942); Verwundetenabzeichen in Silber; Allgemeine-Sturmabzeichen; serta Deutsches Kreuz in Gold (4 Juli 1943)


Sumber :
www.das-ritterkreuz.de
www.die-sturmartillerie.com
www.lexikon-der-wehrmacht.de

Reka-Ulang Pertempuran Berlin oleh Reenactor Ngalam

Adegan Reenactment (Reka-Ulang) pelatihan para anggota Volkssturm dan Hitlerjugend oleh perwira Waffen-SS yang mengambil setting dalam Pertempuran Berlin ini digelar pada tanggal 24 Juli 2015 oleh komunitas reka-ulang sejarah terkemuka asal kota Malang, Reenactor Ngalam, di Sumbersari (Malang), dekat kampus ITN. Adegan intinya sendiri, tentu saja, adalah Pertempuran Berlin yang kemudian disisipkan flashback gerak mundur pasukan Jerman dari Ostfront dan juga Pertempuran Ardennes (Unternehmen Wacht am Rhein).











Sumber :
www.facebook.com

Monday, July 27, 2015

Foto Panzer-Brigade

PANZER-BRIGADE 112

 
 
Seorang Zugführer (Komandan Peleton) berpangkat Leutnant (memakai kacamata) mengumpulkan empat orang komandan tank anakbuahnya di depan sebuah Panzer-Befehlswagen IV (7,5 cm Kw.K. L/48) Ausf. H (Sd.Kfz.161/2) Nr.508 dari 5.Kompanie / Panzer-Brigade 112 / XXXXVII.Panzerkorps / 5.Panzerarmee dan berpose untuk kepentingan propaganda sebelum berangkat bertempur. Pada saat itu XXXXVII. Panzerkorps (General der Panzertruppe Heinrich Freiherr von Lüttwitz) terdiri dari 21. Panzer-Division, Panzer-Brigade 111, Panzer-Brigade 112, dan Panzer-Brigade 113. Foto diambil di desa Abreschviller, Moselle, di sektor Sarrebourg (Prancis) di tengah kecamuk Pertempuran Arracourt/Lorraine tanggal 20 September 1944


 Seorang Zugführer (Komandan Peleton) berpangkat Leutnant dari 5.Kompanie / Panzer-Brigade 112 / XXXXVII.Panzerkorps / 5.Panzerarmee berpose untuk kepentingan propaganda di atas Panzerbefehlswagen IV (7,5 cm Kw.K. L/48) Ausf. H (Sd.Kfz.161/2) Nr.508 saat unitnya beristirahat di desa Abreschviller, Moselle, di sektor Sarrebourg (Prancis) di tengah kecamuk Pertempuran Arracourt/Lorraine tanggal 20 September 1944. Panzerbefehlswagen IV (secara harfiah berarti Panzer IV tunggangan komandan unit) dalam foto ini dilengkapi dengan dua antena radio (FuG5 and FuG8) untuk memfasilitasi komunikasi. Bagian lapisan baja terluarnya juga dilapisi tambahan zimmerit anti peledak magnetik. Warna dasarnya adalah kuning tua yang dikombinasikan dengan hijau zaitun dan merah kecoklat-coklatan. Si Leutnant sendiri adalah seorang veteran dari berbagai pertempuran, yang terlihat dari segambreng medali dan penghargaan yang tertempel di seragam hitamnya: Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse, Panzerkampfabzeichen in Silber, Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille), dan Krimschild. Sebagai pelengkap komunikasi dia mengenakan kopfhörer (headphone) serta Kehlkopfmikrofon (mikrofon tenggorokan)


Sumber :
www.fuehrer3345.tumblr.com

Saturday, July 25, 2015

Foto Operasi Panzerfaust


 Pada tanggal 12 Oktober 1944 schwere Panzer-Abteilung 503 dikirim ke Hungaria untuk mendongkrak kekuatan pasukan Jerman yang berada disana sekaligus mendukung Ferenc Szálasi dan gerakan Nyilaskeresztes (Arrow Cross) dalam usaha kudeta terhadap pemerintahan Hungaria yang bermaksud untuk menyerah pada Uni Soviet. Foto yang diambil tanggal 15 Oktober 1944 ini memperlihatkan sebuah Panzerkampfwagen VI Tiger II Ausf.B (Königstiger) "223" sedang bertugas jaga di Várhegy (Kastil Bukit) yang menghadap sungai Danube di Budapest


 Seorang komandan Königstiger dari schwere Panzer-Abteilung 503 difoto di Budapest, Hungaria, bulan Oktober 1944, saat berlangsungnya Unternehmen Panzerfaust. Foto ini memperlihatkan dengan jelas seberapa besarnya tank berat dari jenis Panzerkampfwagen VI Tiger II tersebut


Foto close-up dari sebuah Panzerkampfwagen VI Ausf.B Königstiger milik schwere Panzer-Abteilung 503 di Budapest (Hungaria) bulan Oktober 1944 selama berlangsungnya Unternehmen Panzerfaust. "Kubah" besar di bawah meriam kaliber 88mm adalah ventilator dari kompartemen tempur tank. Kita juga bisa melihat dengan jelas pasta anti-magnetik Zimmerit yang dipasang di bagian turet Henschel. Foto oleh Kriegsberichter Keiner


 Panzerkampfwagen VI Ausf.B Königstiger "213" dari schwere Panzer-Abteilung 503 di halaman dalam Kastil Buda di Budapest selama berlangsungnya Unternehmen Panzerfaust tanggal 15 Oktober 1944. SPzAbt.503 dikirimkan ke ibukota Hungaria tersebut dimana sang "Raja Singa" digunakan sebagai senjata psikologis. Keberadaan tank berat ini membantu menggagalkan kudeta politik yang bermaksud membawa Hungaria menyerah pada tekanan Tentara Merah dan berbalik melawan Jerman


 Tentara Hungaria (kiri) dan tentara Jerman "bertukar cerita perang" di sebelah Panzerkampfwagen VI Königstiger "231" berlapiskan zimmerit milik 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 503 di Budapest, Hungaria, selama berlangsungnya Unternehmen Panzerfaust, 20 Oktober 1944. Tentara Hungaria tersebut merupakan anggota "Nyilaskeresztes Párt – Hungarista Mozgalom" (Arrow Cross Party-Hungarist Movement), sementara si prajurit SS kemungkinan besar merupakan anggota 22 SS-Freiwilligen-Kavallerie-Division "Maria Theresa"


Sumber :
www.5sswiking.tumblr.com 
www.tiif.de

Perbedaan Mendasar Heer (Angkatan Darat) dan Waffen-SS



Oleh : Steve Edpin

Beberapa perbedaan mendasar antara Heer (angkatan darat) dan Waffen-SS dilihat dari beberapa sudut pandang.

1. PEREKRUTAN & ANGGOTA

Ada beberapa faktor yang membedakan Heer dan Waffen-SS dalam memilih anggotanya, salah satunya adalah faktor edukasi formal. Dalam Heer, yang bisa menjabat sebagai perwira hanyalah orang-orang yang terpilih dan memiliki pendidikan formal, contohnya sekolah tinggi dan universitas. Bagi mereka yang memiliki persyaratan tersebut, dapat langsung mendaftarkan diri sebagai calon perwira. Untuk para petugas dalam jajaran angkatan bersenjata (Wehrmachtbeamten) pun, anggotanya dibagi menjadi empat level karir tergantung dari seberapa tinggi pendidikan formal yang telah ditempuh. Sebaliknya, dalam Waffen-SS hal yang diutamakan adalah kebugaran fisik, kekuatan secara mental dan psikologis, tanpa mementingkan pendidikan formal (kecuali anggota Allgemeine-SS dan dinas keamanan yang membutuhkan orang-orang cerdas sebagai 'otak' dari organisasinya). Seseorang harus berdinas dalam SS minimal satu tahun sebelum bisa mendaftarkan diri menjadi calon perwira.

Selain itu, walaupun para prajurit Heer berasal dari latar belakang yang beraneka ragam, para perwira di jajaran Heer cenderung terdiri dari mereka yang memiliki status, kelas, atau kedudukan tinggi (noblemen) di kalangan masyarakat Jerman, terutama pasukan kavaleri yang terkenal anggotanya didominasi oleh kaum bangsawan.

Hal ini sangat berlawanan dengan pandangan Waffen-SS yang lebih memilih anggota-anggotanya dari kawasan pinggiran kota dan daerah pedesaan karena dianggap lebih dapat menguasai medan pertempuran yang sulit dengan cepat. Pada awalnya, para calon perwira Waffen-SS dipilih dan direkomendasikan oleh atasan-atasan mereka secara pribadi. Di beberapa kasus, terkadang hal ini terbukti berat sebelah karena atasan-atasan tidak merekomendasikan bawahan-bawahannya secara objektif. Pengecualian untuk dinas keamanan dan intelijen dalam tubuh SS yang anggotanya disaring dari orang-orang paling cerdas dari segala penjuru Jerman.

Dari segi fisik, Heer bisa dibilang agak longgar dalam menerima anggota-anggotanya. Namun tetap saja tes kesehatan awal harus dilakukan dengan menyeluruh. Bagi mereka yang lolos akan dicap layak dan dapat menjadi anggota aktif angkatan bersenjata. Bagi mereka yang tidak lolos namun masih layak untuk berdinas akan dicap 'Dinas Militer Cadangan', jika sewaktu-waktu mobilisasi dilakukan mereka akan dipanggil menjadi anggota aktif.

Bagi Waffen-SS, tahap penyeleksian fisik lebih ketat. Terutama untuk pasukan SS awal (SS-Verfügungstruppe), hanya yang berumur 17-22 tahun yang boleh mendaftar (demi keperluan perang batasan umur ditingkatkan menjadi 35 tahun). Mereka harus memiliki tinggi badan minimal 172-178 cm, tergantung dari unitnya. Mereka harus memiliki penglihatan jelas secara normal tanpa kacamata dan gigi lengkap yang tidak ditambal. Mereka pun harus orang Jerman asli dan dapat membuktikan kemurnian rasnya paling sedikit dari tahun 1800.

Untuk hal pelatihan, Heer merupakan suatu struktur militer yang sudah ada sejak lama. Mereka sudah memiliki prosedur-prosedur yang terstruktur, baik dalam tahap perencanaan maupun operasional. Akan tetapi, pada awal terbentuknya, SS tidak memiliki struktur pelatihan yang dapat diikuti secara pasti oleh semua unit. Waffen-SS bukanlah suatu formasi tempur yang matang, dan baru resmi terbentuk pada tahun 1940. Banyak materi-materi yang diadopsi dari Heer diimplementasikan di SS, termasuk teori-teori tempur revolusioner yang berasal dari departemen penelitian Heer. Itulah salah satu alasan mengapa SS membentuk Allgemeine-SS yang dirancang untuk melakukan segala sesuatu dari sudut pandang SS.

2. PENDIDIKAN

Dalam Heer - umumnya pada masa sebelum perang - pendidikan dititikberatkan pada pengetahuan dan doktrin militer tradisional seperti: sejarah militer Jerman, penguasaan senjata, membaca peta, taktik-taktik logis, penguasaan lapangan, dan di beberapa kasus, sedikit dasar-dasar paham nasional sosialisme. Heer juga dilatih untuk memahami hukum-hukum perang yang sudah berlaku secara internasional, sesuatu yang tidak ada dalam SS.

Berbeda dengan kawan-kawan militer di SS, sekalipun taktik militer yang mereka gunakan sebagian besar berasal dari Heer, pendidikan Waffen-SS dititikberatkan pada paham nasional sosialisme yang sangat mendalam yang mengharuskan agar anggota-anggotanya menunjukkan kefanatikannya dalam bertempur, yang seringkali menyerah atau mundur dari pertempuran dihilangkan dari kamus mereka. Mereka pun memiliki kelas pendidikan ideologi dan politik secara terpisah, di mana sebagian besar anggota sama sekali tidak memahami materi yang diberikan, selain indoktrinasi yang dicekoki secara buta.

Perbedaan yang paling mencolok, dibanding dengan Heer, kenaikan pangkat dalam SS lebih bergantung pada komitmen pribadi dalam SS, keefektifan di lapangan, dan pengetahuan politik. Sedangkan dalam Heer, kenaikan pangkat difokuskan pada kelas, pendidikan, dan wawasan yang luas.

Seperti yang telah dijelaskan pada poin 1 sebelumnya, dalam Heer, jabatan perwira disandang oleh mereka yang berasal dari kelas menengah atas dan yang memiliki kualifikasi pendidikan formal. Namun, tidak demikian halnya dalam SS.

3. RASA PERSAUDARAAN

Waffen-SS selalu menekankan kesadaran pribadi akan kedisiplinan dan rasa saling menghormati satu sama lain. Namun dalam jajaran Heer yang lebih menekankan militer tradisional, terlihat lebih kaku karena kedisiplinan selalu ditekankan dari atasan dalam kehidupan sehari-hari.

Dilihat dari segi suasana kerja secara keseluruhan, suasana di SS lebih santai daripada Heer. Hubungan keseharian antara atasan dan bawahan juga lebih santai dalam SS. Perwira SS disebut sebagai 'Führer' (pemimpin), sedangkan dalam Heer disebut sebagai 'Offizier' (perwira). Para anggota SS memanggil atasannya langsung dengan pangkat, sedangkan dalam Heer yang lebih disiplin, panggilan disertai dengan kata 'Herr' (Bapak) sebelum pangkat. Panggilan-panggilan ini dapat diikuti dengan nama belakang. Sebaliknya, dalam suasana latihan, para prajurit Waffen-SS digembleng habis-habisan oleh atasannya.

Semua anggota SS - tidak peduli pangkat mereka, baik SS-Schütze (prajurit SS paling bawah) maupun Reichsführer-SS (pemimpin SS) - disebut SS-Mann, yang secara harafiah berarti 'orang SS' atau 'anggota SS'.

Waffen-SS selalu menekankan pada para perwira agar mereka membaur dalam segala aktivitas dengan bawahan-bawahannya. Rasa saling percaya antara atasan dan bawahan, maupun antar sesama prajurit dibiasakan sejak di barak. Para prajurit diperintahkan untuk tidak mengunci lemari penyimpanan mereka di barak dengan tujuan mendidik mereka agar saling percaya satu sama lain. Jika seorang prajurit memanfaatkan rasa saling percaya ini dan mencuri barang milik kawannya, maka hukuman yang diberikan akan lebih berat daripada hukuman yang diberikan Heer, dan ganjarannya pun lebih keras daripada yang bisa dibayangkan.

Moto SS "Meine Ehre heißt Treue" (kehormatanku adalah kesetiaan) merupakan sesuatu yang didalami dalam kehidupan mereka. Loyalitas yang ditunjukkan di awal tahun pertempuran diutamakan pada negara dan Führer mereka. Tapi seiring berjalannya perang dan kekalahan Jerman yang bertubi-tubi, kesetiaan ini menjadi pudar dan pasukan SS menunjukkan kesetiaan yang berbeda, yaitu rasa rela berkorban terhadap kawan-kawan mereka yang mampu mereka terapkan dalam aksi langsung. Rasa setiakawan SS ini tidak terdapat di semua militer Jerman, kecuali beberapa pasukan seperti Fallschirmjäger yang memiliki moto "Treue um Treue" (kesetiaan demi kesetiaan).

Meski demikian, para anggota Waffen-SS Jerman (Jerman asli) memperlakukan anggota Waffen-SS lainnya - baik Jermanik (keturunan Jerman) maupun non-Jermanik (bukan keturunan Jerman) - secara berbeda. Mereka memperlakukan anggota SS lain ini dengan kasar. Seringkali dalam pelatihan mereka diperlakukan dengan tidak hormat dan dicacimaki. Dan tidak jarang juga Himmler harus turun tangan dengan cara memberi teguran atau bahkan mencopot posisi para instruktur SS Jerman ini agar memperlakukan kawan-kawan SS lainnya dengan setara.

4. KEPERCAYAAN

Dalam Heer - layaknya para prajurit di sebagian besar negara Eropa yang didominasi agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan - kepercayaan atau agama dianggap merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Agama memberikan kepercayaan spiritual yang secara tidak langsung mempengaruhi aksi para prajurit di lapangan, terutama secara mental. Heer memiliki pastor atau pendeta lapangan yang bertugas memberikan berbagai sakramen bagi para prajuritnya.

Sebaliknya, anggota SS didorong untuk meninggalkan agama mereka. Himmler menganjurkan agar petinggi-petinggi Allgemeine-SS mulai meninggalkan agama mereka untuk memberikan contoh kepada bawahan-bawahannya. Himmler memiliki sebuah tujuan untuk membangun suatu 'agama' baru yang dianut SS, di mana Mein Kampf menjadi kitab keagamaannya. Segala proses kehidupan pun dilakukan secara SS, mulai dari pembaptisan bayi, pernikahan, dan pemakaman orang meninggal, yang semuanya dilakukan ala SS.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa banyak anggota SS yang telah meninggalkan gereja, pada akhirnya kembali kepada kepercayaannya menjelang akhir perang di mana Jerman berada di ambang kekalahan besar.

4. AKSI

Karena sebagian besar anggota Waffen-SS bukanlah orang yang memiliki standar pendidikan formal yang memadai, mereka cenderung lebih mudah dicekoki indoktrinasi politik dan menjalankan perintah tanpa pertimbangan. Hal ini mengakibatkan prajurit rendahan Waffen-SS cenderung lebih fanatik dan tidak logis dalam pertempuran, karena mereka tidak mampu berpikir secara kritis dalam menangani hal-hal yang bersifat umum. Mereka cenderung memecahkan segala masalah dengan 'cara militer' dan hanya melakukan apa yang diperintahkan tanpa berpikir lebih lanjut.

Di satu sisi, kefanatikan di pertempuran ini memberikan dampak positif yang membuat musuhnya tercengang karena sifat pasukan Waffen-SS yang pantang menyerah serta mampu bertahan meski dalam jumlah yang kecil sekalipun dibanding musuhnya. Pasukan Waffen-SS terkenal nekat dalam mengambil resiko. Hal ini terbukti efektif di medan tempur. Namun di sisi lain, karena hal ini juga Waffen-SS dapat dinilai tidak efisien dalam mengalokasikan pasukannya. Begitu besar jumlah korban yang diderita selama pertempuran hanya karena mereka mempertahankan mati-matian suatu objektif atas nama ideologi yang bahkan tidak mereka mengerti.

Karena hal itu jugalah banyak sekali anggota Waffen-SS yang memperlakukan anggota Waffen-SS lain dengan kasar, seperti yang telah disebut pada poin 3. Selain itu, mereka secara terang-terangan memendam kebencian buta terhadap musuh-musuhnya. Di Front Timur kebencian akan Yahudi-Bolshevisme secara gencar dikumandangkan. Di Front Barat kebencian akan sekutu Anglo-Amerika juga disebarluaskan. Karena hal inilah, pasukan SS terkenal sebagai pasukan 'rendahan' yang tidak menjunjung nilai ksatria dalam menjalani peperangan, di mana mereka terlihat menjalani pertempuran tanpa ikut ambil bagian dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai sebuah organisasi militer profesional. Sebagai contoh: setelah perang usai, mantan prajurit dan perwira SS mengakui bahwa banyak elemen pasukan Waffen-SS mengeksekusi tahanan perang dengan alasan karena mereka tidak ingin mengurus tahanan perang yang akan menghambat gerak maju pasukan; sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka untuk memperlakukan tahanan perangnya dengan baik.

Berbeda dengan Heer yang merupakan suatu angkatan yang masih memegang teguh norma-norma perang secara ksatria (chivalrous warfare) seperti yang sudah dihadapi nenek moyang mereka. Meskipun hal ini tidak menutup kemungkinan anggota-anggota Wehrmacht juga terlibat dalam kejahatan perang. Seiring berjalannya perang, dapat dikatakan semua negara melakukan kejahatan perang.

5. JUMLAH KORBAN

Seperti yang telah dijelaskan pada poin 4, jumlah korban yang diderita Waffen-SS begitu besar karena indoktrinasi politik dan ideologi nasional sosialis yang sudah diberikan sejak awal mereka bergabung dengan SS. Akan tetapi masih banyak perdebatan di kalangan sejarawan mengenai jumlah korban yang diderita Waffen-SS dibanding Heer. Selama perang Heer kehilangan sepertiga dari jumlah keseluruhan pasukannya, sedangkan Waffen-SS secara total kehilangan seperempat pasukannya. Salah satu faktor yang menyebabkan Waffen-SS kehilangan lebih sedikit korban adalah karena indoktrinasi yang diberikan menyebabkan mereka menjadi agresif saat ofensif dan tetap tegar dalam posisi defensif.

6. KESIMPULAN

Tidak diragukan lagi bahwa Waffen-SS telah membuktikan kapasitasnya sebagai suatu formasi tempur yang tangguh dalam sejarah perang modern. Namun, kembali lagi pada beberapa pembahasan di atas, karena kekejian dan kebrutalan yang dilakukan, Waffen-SS tidak dianggap oleh para musuhnya sebagai suatu formasi tempur yang terhormat. Para tahanan perang Waffen-SS sering dihajar oleh musuh-musuhnya, dan diperlakukan lebih kasar daripada tahanan angkatan bersenjata lainnya. Para mantan anggota SS tidak berhak mendapatkan dana pensiun dan keuntungan-keuntungan lain seperti yang didapat anggota Heer.

Berbeda dengan SS, Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman) mampu menempatkan dirinya setara dengan legiun Caesar dan Grande Armeé Napoleon sebagai suatu formasi tempur teratas sepanjang sejarah, yang bukan saja dilihat dari kemampuan tempurnya namun juga dilihat dari jiwa prajurit sebagai ksatria. Seusai perang, tahanan perang Wehrmacht lebih bersahabat dan lebih mudah diajak berkompromi; suatu hal yang lebih disukai Sekutu sehingga mereka diperlakukan dengan lebih baik.

Tidak dapat dipungkiri, SS berperan besar dalam melikuidasi begitu banyak populasi dan tahanan perang. Dapat kita lihat, di mana pasukan SS beroperasi, hampir selalu ada kejahatan perang yang mengikutinya. Perbedaan yang begitu mencolok jika kita lihat medan tempur Afrika. Tidak ada kejahatan perang massal yang terjadi di sana, seperti yang terjadi di medan Eropa. Salah satu alasan yang dapat diambil adalah karena tidak ada pasukan SS yang disebar di medan Afrika untuk fungsi tempur. Ada sebuah kantor keamanan SS yang dibuka namun hanya berfungsi untuk tugas garis belakang dan fungsi non-tempur. Antara Jerman-Italia dan Inggris juga saling menghormati satu sama lain di medan tempur. Terlebih lagi Jerman yang dipimpin oleh Rommel, dan Inggris yang akhirnya dipimpin Montgomery, dua jenderal terhormat yang menjunjung tinggi 'the rules of chivalrous warfare'.


Sumber :

Thursday, July 23, 2015

Foto Kraftfahrzeug 21 (Kfz 21)

 Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B) menyapa prajurit-prajurit Wehrmacht dalam perjalanan inspeksinya menggunakan Horch 901 KfZ 21 Kommandeurscabriolet (WH 1404945) di Normandia, musim panas tahun 1944. Di sebelahnya adalah sang supir yang berasal dari Luftwaffe, Unterfeldwebel Karl Daniel. Disini kita bisa melihat bahwa prajurit yang berdiri paling depan (dekat dengan kamera) membawa serta senapan mesin MP 43 di bahunya. Pada pertengahan tahun 1944 Hitler memmerintahkan penggantian nama MP 43 (Maschinenpistole 43) menjadi StG 44 (Sturmgewehr 44)


Sumber :
www.scalemodels.ru

Wednesday, July 22, 2015

Foto Kraftfahrzeug 15 (Kfz 15)


General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Panzergruppe "Afrika") sedang meninjau posisi 15. Panzer-Division menggunakan Kraftfahrzeug 15 (Mercedes-Benz 340) bersama dengan Leutnant Alfred Ingemar Berndt dan Sonderführer Ernst Zwilling di antara Tobruk dan Sidi Omar (Libya), 24 November 1941. Di latar belakang tampak kendaraan Sd.Kfz 221/222. Wajah lelah dan penuh debu tampak kentara dari manusia-manusia di foto ini, yang kemungkinan besar merupakan ekses dari kebiasaan Rommel di medan perang manapun untuk mem-push pasukannya sampai ke daya tahan maksimal yang tubuh mereka sanggup hadapi. Sudah bukan rahasia lagi kalau pada saat pertempuran sedang dahsyat-dahsyatnya berkecamuk, Rommel hanya tidur kurang dari 2 jam seharinya! Leutnant Berndt pada awalnya merupakan anakbuah Joseph Goebbels di Kementerian Propaganda yang kemudian diperbantukan kepada Rommel. Pada akhirnya dia menjadi seorang prajurit yang jempolan, sahabat si Rubah Gurun, orang kepercayaannya, dan menjadi pengantar pesan tidak resmi antara Rommel dan Hitler


Sumber :
Buku "Field Marshal: The Life and Death of Erwin Rommel" karya Daniel Allen Butler