Friday, December 19, 2014

Foto Tokoh Third Reich Peraih Medali Kroasia

HRVATSKA ZRAKOPLOVNA OZNAKA (CROATIAN PILOT'S BADGE)


 Dari kiri ke kanan: Generalmajor Karl Koller (22 Februari 1898 - 22 Desember 1951) dan Generalmajor Hermann Plocher (5 Januari 1901 - 8 Desember 1980). Koller mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes dan Königreich Bayern Flugzeugführerabzeichen, sementara Plocher mengenakan Deutsches Kreuz in Gold dan Spanienkreuz in Gold mit Schwertern. Di luar dari itu, keduanya sama-sama mengenakan medali Hrvatska Zrakoplovna Oznaka (Croatian Pilot's Badge) di seragam mereka. Foto kemungkinan besar diambil antara tanggal 26 Agustus 1943 s/d 4 September 1943 saat serah terima jabatan Chef des Generalstabes Luftflotte 3 dari Koller ke Plocher


Sumber :

Foto Peraih Gemeinsames Flugzeugführer- und Beobachterabzeichen in Gold mit Brillanten (Combined Pilots and Observers Badge in Gold with Diamonds)



Generaloberst Ernst Udet (26 April 1896 - 17 November 1941) adalah mantan jagoan udara Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia Pertama. Dia adalah salah satu pilot jagoan termuda kali itu dan juga pilot dengan pencapaian tertinggi yang berhasil selamat keluar dari perang (dengan 62 kemenangan udara terkonfirmasi, dia merupakan jagoan udara Jerman paling sukses no.2 dalam Perang Dunia Pertama setelah Manfred von Richthofen!). Dalam Perang Dunia II Udet dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 4 Juli 1940 sebagai General der Flieger dan Generalluftzeugmeister und Chef des Planungsamts der Luftwaffe / Reichsluftfahrtministerium. Kisah hidupnya berakhir tragis saat dia bunuh diri dengan pistol bulan November 1941 setelah mengalami depresi akibat menjadi kambing hitam kegagalan Luftwaffe dalam mengganti jumlah pesawat yang menjadi korban peperangan. Sebelum bunuh diri dia menulis di papan tulis diatas ranjang kematiannya: "Reichsmarschall, mengapa kau mengkhianatiku?". Dalam perjalanan menuju upacara pemakaman Udet, jagoan udara terbaik Luftwaffe saat itu, Oberst Werner Mölders, tewas setelah pesawatnya mengalami kecelakaan di Breslau. Udet dan Mölders kemudian dikuburkan berdampingan di Invalidenfriedhof Berlin. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (24 September 1915); 1914 Eisernes Kreuz I.Klasse (20 Maret 1916); Königlich Preußisches Militär-Flugzeugführer-Abzeichen; Ehrenbecher für dem Sieger im Luftkampf (17 Agustus 1916); Königlich Württembergische Verdienstkreuz mit Schwertern (4 November 1916); Ritterkreuz des Königlichen Preußen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern (13 November 1917); Pour le mérite (9 April 1918); Lübeckisches Hanseatenkreuz (24 Agustus 1918); Hamburgisches Hanseatenkreuz (17 September 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Silber; Ehrenmedaille Deutscher Aero Club e.V. für besondere Verdienste; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. Klasse; Gemeinsames Flugzeugführer- und Beobachterabzeichen in Gold mit Brillanten; 1939 Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; serta Grossoffizierkreuz des Königlich Bulgarische Militär-Verdienstorden mit Schwertern



Sumber :

Thursday, December 18, 2014

Foto Jagdgeschwader 53 (JG 53) "Pik-As"

PERAIH RITTERKREUZ

 
 Hauptmann Franz Barten (26 Januari 1912 - 4 Agustus 1944) ditempatkan di Jagdgeschwader 77 pada tanggal 1 Juli 1939. Dia ikut berpartisipasi dalam invasi ke Polandia, Pertempuran Prancis dan Pertempuran Britania. Barten mencetak kemenangan terkonfirmasi pertamanya pada tanggal 14 September 1940 setelah menembak jatuh sebuah pesawat Hawker Hurricane RAF. JG 77 kemudian dinamai ulang menjadi JG 51 dan Barten ikut serta bersama unit tersebut dalam penyerbuan Jerman ke Uni Soviet tahun 1941. Di akhir tahun itu dia sudah mencetak 25 kemenangan udara. Pada tanggal 10 November 1942 Barten terluka sehingga harus mendapatkan perawatan. Pada tanggal 1 Juni 1943 dia ditransfer ke III./JG 53 yang beroperasi di Mediterania sebagai Staffelkapitän. Dia mencetak kemenangannya yang ke-50 pada tanggal 3 September 1943 ketika menembak jatuh sebuah pesawat B-24 Liberator USAAF. Pada tanggal 1 Agustus 1944 giliran Barten yang ditembak jatuh oleh pesawat P-47 Thunderbolt USAAF bersama dengan pesawat Messerschmitt Bf 109 yang dipilotinya dalam kancah Reichsverteidigung (Pertahanan Reich) di atas Rheinsehlen. Dia terjun dari pesawatnya menggunakan parasut, tapi secara keji ditembak oleh pilot lawannya saat turun! Disaat kematiannya, Barten tercatat mengkoleksi 55 kemenangan udara dari 895 misi tempur. Untuk menghargai jasa-jasanya dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes secara anumerta tanggal 29 Oktober 1944 sebagai Oberleutnant dan Staffelkapitän 9.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 53 (JG 53) "Pik-As" / 7.Jagddivision / I.Jagdkorps / Luftflotte Reich. Pangkatnya juga dinaikkan secara anumerta menjadi Hauptmann. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Flugzeugführerabzeichen (21 September 1938); Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 (26 Agustus 1939); Dienstauszeichnung IV. Klasse; Eisernes Kreuz II.Klasse (1 Desember 1939); Eisernes Kreuz I.Klasse (29 September 1940); Luftwaffe Ehrenpokale für Besondere Leistungen im Luftkrieg (20 Oktober 1941); Verwundetenabzeichen in Silber; Deutsches Kreuz in Gold (22 Mei 1942); Frontflugspange für Tagjäger in Gold mit Anhänger (10 Agustus 1942); serta Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (20 Agustus 1942)



Sumber :
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de

Tokoh-Tokoh Waffen-SS Paling Terkemuka



Oleh : Fachrizal

Lepas dari perilakunya yang kadang-kadang lebih dikenal karena kekejamannya, para tokoh SS ini merupakan figur yang menarik, baik dari perilakunya maupun atribut yang digunakannya. Bahkan sampai saat ini para penggemar atau kolektor Action Figure menjadikan tokoh-tokoh ini sebagai koleksi yang menarik dan dicari.


JOSEF ‘SEPP’ DIETRICH

Dia termasuk pemimpin SS yang disegani dan disenangi oleh anak buahnya karena kedekatannya secara pribadi dengan mereka. Dietrich yang dilahirkan pada 25 Mei 1892 telah ikut dalam Perang Dunia I dengan pangkat Sersan. Seusai perang dia masuk Partai Nazi, terpilih sebagai kepala pengawal Adolf Hitler. Dia memimpin SS dalam peristiwa ‘The Night of the Long Knives‘ untuk menumpas SA pimpinan Ernst Rohm. Dia terlibat langsung dalam eksekusi Rohm.Semasa Perang Dunia II, Dietrich memimpin Divisi SS-nya dalam kampanye di front timur selama dua tahun, lalu pindah ke front Italia, sebelum bergabung dengan ofensif Jerman di Ardennes akhir 1944. Menjelang perang usai, dia bertempur di Hongaria melawan Tentara Merah, sebelum menyerah kepada tentara AS. Dia diadili dan dipenjara dengan tuduhan terlibat pembunuhan keji terhadap tawanan AS di Malmedy, Ardennes.

Di mata tentara reguler Jerman, Dietrich dipandang sebelah mata. Keluarnya dari penjara, ia ditangkap lagi dan diadili oleh pemerintah Jerman Barat atas pembunuhan Rohm. Dia lalu dibui selama 18 bulan sebelum bermukim di Ludwigsburg. Ia meninggal pada 21 April 1966.


PAUL ‘PAPA’ HAUSSER


Lulusan Sekolah Staf Prusia ini lahir pada 7 Oktober 1880. Dia militer profesional, terlibat dalam perang di front barat maupun timur selama Perang Dunia I. Seusai perang, dia tetap menjadi perwira tentara Jerman (Reichswehr), mengundurkan diri pada 1932 dengan pangkat letnan jenderal. Dia bergabung dengan para eks-tentara sayap kanan, yang kemudian dilebur dalam SA.

Hauser ikut membangun SS lewat kombinasi pelatihan militer Reichswehr dengan ideologi SS. Dalam Perang Dunia II dia memimpin Divisi SS Das Reich di front timur. Dia berani menolak perintah Hitler untuk bertahan mati-matian di Kharkov, sehingga menyelamatkan korpsnya. Hauser memimpin pasukan tank dalam pertempuran tank terbesar sepanjang sejarah di Kursk. Kepemimpinannya diakui, sehingga Hitler mengizinkan pembentukan Korps Panser SS yang kedua.

Di front barat, dia memimpin Korps AD Ketujuh melawan invasi Sekutu. Usai perang, dia berjuang merehabilitasi nama Waffen-SS dengan menyatakan mereka adalah prajurit sebagaimana prajurit lainnya (Soldaten wie andere auch). Hauser meninggal pada 21 Desember 1972. Pemakamannya dihadiri ribuan mantan anak buahnya, yang selalu memanggilnya ‘Papa’.


ARTHUR 'PAPA' PHLEPS


Dia adalah prajurit karier dan profesional, terlibat dalam PD I. Phleps yang dilahirkan 29 November 1881 seusai perang mendapati daerah kelahirannya telah dimasukkan ke wilayah Rumania. Dia membantu mengembangkan tentara Rumania meski nuraninya masih terikat dengan kejermanannya. Dia tidak suka dengan perlakuan Rumania terhadap minoritas Jerman di wilayah itu. Sehingga ketika Balkan jatuh dalam pengaruh Jerman Nazi tahun 1941, Phleps bergabung dengan Waffen SS, diserahi memimpin Resimen Westland.

Phleps merupakan sosok cemerlang, sehingga oleh Wehrmacht ditawari masuk tentara reguler untuk memimpin sebuah divisi. Namun bos SS Himmler mendahului dengan mengangkatnya sebagai SS-Gruppenfuhrer (setara Letjen) dan menugasinya membentuk divisi baru, SS-Freiwilligen Gebirgs Division Prinz Eugen yang diterjunkan memerangi partisan Yugoslavia.

Sebagai komandan pasukan gunung, Phleps berhasil baik dan dipromosi menjadi SS-Obergruppenfuhrer (Jenderal), lalu membentuk divisi baru V-SS-Gebirgskorps. Akhir 1944 ketika bersama ajudannya melakukan pengintaian untuk mengetahui posisi Tentara Merah, mereka disergap dan ditawan. Tetapi tatkala terjadi serangan udara oleh Jerman, maka Phleps dan ajudannya ditembak mati sebelum musuh mengetahui betul siapa dirinya.


JOACHIM 'JOCHEN' PEIPER


Dia termasuk figur paling kontroversial dalam Waffen-SS. Setelah merampungkan pendidikan militer-SS, Peiper bergabung dengan SS-Leibstandarte Adolf Hitler. Dia sempat menjadi ajudan Himmler sebelum masuk ke kancah perang, baik di front barat maupun timur. Dia dikenal sebagai perwira yang cerdas dan pemberani. Dia pernah memimpin penyelamatan sepasukan Jerman yang terjebak di wilayah pasukan Rusia.
Peiper menyerang habis pasukan Rusia yang berusaha mencegah pasukan Jerman tadi meloloskan diri. Dia terkenal karena tak pernah menyuruh anak buahnya melakukan hal yang dia sendiri tidak lakukan. Dalam ofensif Jerman di Ardennes Belgia akhir 1944, Peiper memimpin pasukan tank Konigstiger sebagai ujung tombak.

Namun elemen dari pasukannya, Resimen Pazer SS Ke-1 melakukan kejahatan dengan membunuh tawanan Amerika di Malmedy. Usai perang, Peiper yang berpangkat SS-Standartenfuhrer (Kolonel) dihukum mati, namun kemudian diubah menjadi seumur hidup. Tahun 1956 dia dibebaskan dan bermukim d Jerman selama 14 tahun, sebelum pindah ke Traves, kota kecil di Perancis. Di sini di teror oleh kaum komunis Perancis yang berakhir dengan pembunuhan dirinya pada 13 Juli 1976.


MICHAEL WITTMANN


Jagoan perang tank ini lahir 22 April 1914. Pada usia 20 tahun ia masuk AD Jerman. Setelah itu Wittmann bergabung dengan SS, masuk ke Leibstandarte SS Adolf Hitler. Ketika PD II pecah, dia menunjukkan kebolehannya dalam berbagai kondisi pertempuran. Karena itu ia dididik menjadi perwira SS, lulus sebagai SS-Unterstrurmfuhrer atau letnan dua.

Ia dimasukkan ke detasemen tank berat Tiger yang baru terbentuk. Wittmann menunjukkan kehebatannya dalam pertempuran Kursk, dengan menghancurkan 38 tank dan 28 pucuk meriam musuh. Dalam tiga minggu berikutnya, dia lagi-lagi melumpuhkan 88 tank Rusia, sehingga Hitler memberinya selamat.

Wittmann pun mengukuhkan diri sebagai komandan tank paling berhasil dalam sejarah. Di front barat, Wittmann pada 13 Juni 1944 mencegat barisan tank dari Divisi Tank ke-7 Inggris dekat Viller Bocage. Wittmann menghancurkan tank terdepan, lalu yang terakhir. Sehingga tank-tank lainnya terjebak dan sulit bermanuver, dan dari jarak cukup dekat Wittmann dapat meledakkan tank itu satu persatu. Ia baru mundur setelah mendapat serangan anti-tank Inggris.

Hari itu dia melumpuhkan 25 tank Inggris, dan naik pangkat menjadi SS-Hauptsturmfuhrer (Kapten). Pada 8 Agustus di dekat Cintheaux, dia disergap skuadron Sherman Kanada, termasuk tipe Firefly yang dilengkapi meriam 17-pounder yang hebat. Tank Wittmann dikeroyok oleh beberapa Tank Kanada, sehingga meledak dan menewaskan seluruh awaknya. Jenazahnya baru ditemukan tahun 1983 ketika ada proyek pelebaran jalan.


THEODOR 'PAPA' EICKE


Dalam PD I dia menjadi prajurit administrasi, sebagai juru bayar. Seusai perang, Eicke yang dilahirkan pada 17 Oktober 1892 masuk ke kepolisian, namun hanya sebentar lalu masuk ke Sturm Abteilungen (SA). Di sini dia diarahkan ke SS. Oleh Himmler dia ditugaskan memimpin kamp konsentrasi untuk ‘re-edukasi’ tahanan politik.

Ia berhasil membuat SS lebih berdisiplin, dan diam-diam mulai mempersenjatai mereka karena tentara reguler menolak melatih dan mempersenjatai SS. Sebelum pecah perang, dia berhasil membangun Divisi SS-Totenkopf yang dia organisasikan dengan struktur militer yang baku.

Divisinya berkinerja baik dalam kampanye blitzkrieg di Eropa Barat, namun terlibat kejahatan perang karena pasukannya membunuhi tentara Inggris yang sudah menyerah. Tatkala Jerman menginvasi Rusia, divisinya juga beroperasi di front timur. Pada 26 Februari 1943, Eicke yang terbang dengan pesawat Storch untuk memantau posisi musuh, tewas setelah pesawatnya ditembak oleh pesawat pemburu Rusia. Pasukannya berhasil menemukan jenazahnya di belakang garis Rusia. Untuk menghormatinya, salah satu Resimen SS-Totenkopf diberi nama Theodor Eicke. Ia dimakamkan di makam militer Jerman di dekat Orelka, Rusia, lalu dipindahkan ke Makam Militer Hegewald di Zhitomir.


Sumber :
www.fachrizal06.wordpress.com


Peristiwa Kudeta Münich (Beer Hall Putsch)




Oleh : Fachrizal

Serangkaian peristiwa keuangan terjadi antara tahun 1921 sampai 1923 yang akan menggerakkan Nazi menuju keberanian baru yang lebih tinggi dan bahkan akan mendorong Hitler untuk berusaha menguasai Jerman.

Pada bulan April 1921, pemenang perang dunia satu, sekutu Eropa, terutama Perancis dan Inggris, mengeluarkan sebuah rekening pada Jerman yang menuntut pembayaran atas kerusakan yang disebabkan oleh perang yang dimulai Jerman. Tagihan ini (33 milyar dollar) untuk pampasan perang segera mengkibatkan pengaruh terjadinya inflasi yang menghancurkan Jerman.

Mata uang Jerman, mark, secara drastis menurun nilainya. Nilainya adalah empat mark untuk satu U.S. dollar sampai pampasan perang diumumkan. Kemudian menjadi 75 mark untuk 1 dollar dan pada tahun 1922 tenggelam menjadi 400 untuk 1 dollar. Pemerintah Jerman meminta penundaan pembayaran. Perancis menolaknya. Jerman menentangnya dengan menahan pembayaran. Sebagai jawaban atas ini, pada bulan Januari 1923, angkatan bersenjata Perancis menduduki Ruhr, sebuah kawasan industri Jerman.

Mark Jerman jatuh menjadi 18,000 untuk 1 dollar. Pada bulan Juli 1923, tenggelam menjadi 160,000. Bulan Agustus, 1,000,000. Dan pada bulan November 1923, dibutuhkan 4,000,000,000 mark untuk mendapatkan 1 dollar.

Jerman kehilangan tabungan hidup mereka. Gaji dibayar dengan uang yang tak berharga. Makanan berharga milyaran. Kekacauan akibat kelaparan terjadi.

Saat itu, rakyat berdiri dihadapan pemerintah mereka, mendukung penentangan terhadap Perancis. Tetapi pada bulan September 1923, pemerintahan Jerman membuat keputusan pasrah untuk kembali melakukan pembayaran. Kemarahan dan kegelisahan diantara rakyat, kelompok-kelompok politik ekstrim menghasut untuk melakukan tindakan dan secara cepat membawa Jerman menuju tepi jurang kekacauan.

Nazi dan kelompok serupa lainnya sekarang merasakan saat yang tepat untuk menyerang. Propinsi Bavaria Jerman yang merupakan pusat Nazi adalah tempat dari kelompok oposisi dari pemerintahan demokratik di Berlin. Saat itu, November 1923, Nazi, dengan 55,000 pengikut, merupakan yang paling terorganisir dan terbesar. Dengan banyaknya anggota Nazi yang menginginkan tindakan, Hitler tahu bahwa dia harus beraksi atau mengambil resiko kehilangan kepemimpinannya di partai.

Hitler dan Nazi merancang rencana untuk menculik pemimpin pemerintahan Bavaria dan memaksa mereka dengan senjata untuk menerima Hitler sebagai pemimpin mereka. Maka, sesuai dengan rencana, dengan bantuan Jenderal yang terkenal pada perang dunia pertama, Erich Ludendorff, mereka akan menguasai seluruh angkatan bersenjata Jerman, memroklamasikan pemberontakan secara menyeluruh dan menjatuhkan pemerintahan demokratik Jerman di Berlin.

Mereka akan melaksanakan rencana itu saat mereka mempelajari bahwa akan ada pertemuan besar para pelaku bisnis di Munich beer hall dan tamu kehormatan yang dijadwalkan datang adalah para pemimpin Bavaria yang akan mereka culik.

Pada tanggal 8 November 1923, pasukan SA dibawah pimpinan Hermann Göring mengepung tempat itu. Pada pukul 8:30 malam, Hitler dan pasukannya datang dengan tiba-tiba ke beer hall dan dalam sekejab menyebabkan kepanikan.

Hitler menembakkan pistol ke langit-langit. “Diam!” dia berteriak pada kerumunan yang kebingungan.

Hitler dan Göring memaksa memasuki podium dengan pasukan bersenjata SA terus memasuki hall. Komisaris Negara Gustav von Kahr, yang pidatonya diinterupsi oleh semua keributan itu, memberikan podium pada Hitler.

“Revolusi nasional telah dimulai!” Teriak Hitler. “…Tak seorangpun yang boleh meninggalkan hall. Kecuali kalau ada ketenangan, dengan segera aku akan menempatkan senanpan mesin di galeri. Pemerintahan Bavaria dan Reich telah disingkirkan dan pemerintahan nasional sementara telah dibentuk. Barak dari Reichswehr dan polisi telah dikuasai. Tentara dan polisi berbaris di kota di bawah panji swastika!”

Tidak ada satupun dari ucapan itu yang benar, tetapi semua yang ada di beer hall tidak mengetahuinya.

Hitler kemudian memerintahkan tiga pejabat tertinggi dari pemerintahan Bavaria ke ruang belakang. Komisaris Negara Kahr, bersama dengan kepala polisi negara, Kolonel Hans von Seisser, dan komandan pasukan Jerman di Bavaria, Jenderal Otto von Lossow, melakukan apa yang mereka perintahkan dan menuju ke ruangan tempat Hitler memberitahukan bahwa mereka akan bergabung dengannya memproklamasikan revolusi Nazi dan akan menjadi bagian dari pemerintahan baru.

Tetapi kejutan besar bagi Hitler, tiga tawanannya melotot padanya dan bahkan pada mulanya menolak untuk bicara padanya. Hitler meresponnya dengan melambaikan pistolnya pada mereka, sambil berteriak: “Aku punya empat peluru dalam pistolku! Tiga untuk anda, tuan-tuan. Peluru terakhir untukku sendiri!”

Bagaimanapun, revolusi di ruang belakang berlanjut kurang baik bagi Hitler. Kemudian, atas suatu dorongan mendadak, Hitler keluar dari ruangan dan kembali ke podium dan berteriak: “Pemerintahan Penjahat November dan Presiden Reich dinyatakan telah disingkirkan. Pemerintahan nasional baru akan diberi nama hari ini di Munich. Angkatan bersenjata nasional akan segera dibentuk…Tugas dari pemerintahan nasional Jerman sementara adalah mengorganisir gerakan pada kota Babel yang penuh dosa,Berlin, dan menyelamatkan rakyat Jerman! Besok kita akan menemukan bentuk lain pemerintahan nasional di Jerman atau kita akan mati!”

Hal ini mengakibatkan semua yang ada di beer hall percaya bahwa orang-orang di ruang belakang telah menyerah pada Hitler dan bergabung dengan Nazi. Maka muncul sorakan liar untuk Hitler.

Jenderal Ludendorff kemudian datang. Hitler tahu bahwa tiga pemimpin yang masih di ruang belakang akan mendengarkan Jenderal itu.

Atas saran Hitler, Ludendorff berbicara pada orang-orang di ruang belakang dan menyarankan mereka untuk ikut bersama revolusi Nazi. Mereka dengan enggan menyetujui, kemudian pergi ke podium menemui massa, menunjukkan dukungan mereka untuk Hitler dan berjanji setia pada rezim yang baru.

Dengan emosional Hitler berbicara pada massa: “Aku akan memenuhi janjiku yang kubuat untuk diriku sendiri lima tahun lalu saat aku mengalami kebutaan di rumah sakit militer – untuk tidak beristirahat atau berhenti sampai penjahat November dijatuhkan, sampai reruntuhan negara Jerman yang tercabik-cabik hari ini akan dibangkitkan sekali lagi sebagai negara Jerman yang berkuasa dan besar, bebas dan mulia.”

Massa yang ada di beer hall meneriakkan persetujuan mereka dan bernyanyi “Deutschland über Alles.” Hitler sangat gembira. Ini mengubahnya menjadi malam kemenangan baginya. Besok mungkin dia akan menjadi pemimpin baru Jerman.

Tetapi kemudian kata-kata untuk mengambil alih beberapa barak militer telah gagal dan tentara Jerman yang ada dalam barak bertahan melawan pasukan Nazi. Hitler memutuskan untuk meninggalkan beer hall dan pergi ke tempat kejadian untuk memecahkan masalah.

Meninggalkan beer hall adalah kesalahan yang fatal. Akibat ketidakhadirannya revolusi Nazi dengan cepat menjadi terbongkar. Tiga pemimpin pemerintahan Bavaria, Kahr, Lossow, dan Seisser, keluar dari beer hall setelah dengan secara licik berjanji pada Ludendorff mereka akan tetap setia pada Hitler.

Sementara itu, Hitler tidak mempunyai keberuntungan untuk mendapatkan tentara Jerman yang bertahan di barak untuk menyerah. Karena gagal, dia kembali ke beer hall.

Ketika dia tiba kembali di beer hall dia sangat terkejut karena menemukan bahwa revolusinya telah gagal. Tidak ada rencana gerakanmassa untuk esok hari di Berlin. Munich bahkan belum dikuasai. Tidak ada sesuatu yang terjadi.

Kenyataannya, hanya satu bangunan, Markas angkatan bersenjata di Kementerian Peperangan telah dikuasai oleh Ernst Röhm dan pasukan SA-nya. Di tempat lain, gerombolan orang-orang Nazi menjelajahi kota Munich menemui lawan-lawan politiknya dan menyakiti orang-orang Yahudi.

Pagi-pagi sekali tanggal 9 November, Komisaris Negara Kahr mengingkari janjinya pada Hitler dan Ludendorff serta mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan Hitler: “Deklarasi yang dipaksa dariku, Jenderal Lossow dan Kolonel von Seisser dengan todongan pistol batal dan tidak berlaku. Jika usaha yang tanpa tujuan dan tanpa perasaan dari revolusi itu berhasil, Jerman akan jatuh ke dalam jurang dan Bavaria ikut bersamanya.”

Kahr juga memerintahkan membubarkan partai Nazi dan pasukan tempurnya.

Jenderal Lossow juga mengabaikan Hitler dan memerintahkan angkatan bersenjata menuju Munich untuk menjatuhkan pasukan Nazi. Pasukan menyerbu masuk dan waktu fajar menyingsing bangunan Kementrian Peperangan yang di dalamnya terdapat Röhm dan pasukan SA telah dikepung.

Hitler semalam suntuk kebingungan mencoba memutusakan apa yang harus dilakukan. Jenderal Ludendorff kemudian memberinya ide. Pasukan Nazi akan melakukan long-march di tengah kota Munich dan menguasainya. Karena dia terkenal pada perang dunia satu, alasan Ludendorff, tidak ada seorangpun yang akan berani menembaknya. Dia bahkan meyakinkan Hitler bahwa polisi dan tentara akan dengan senang hati bergabung dengan mereka. Sekarang dengan nekat Hitler menjalankan ide itu.

Sekitar jam 11. pada tanggal 9 November, barisan yang terdiri atas tiga ribu anggota Nazi, dipimpin oleh Hitler, Göring dan Ludendorff berbaris menuju pusatkota Munich. Pembawa salah satu bendera adalah anggota partai yang masih muda bernama Heinrich Himmler.

Setelah mencapai pusat kota Munich, anggota Nazi bergerak menuju bangunan Kementrian Peperangan tetapi mereka menghadapi blokade polisi. Saat mereka berdiri berhadapan dengan sekitar seratus polisi bersenjata, Hitler berseru agar mereka menyerah. Mereka tidak mau. Tembakan terdengar. Kedua belah pihak saling menembak. Hal itu berlangsung sekitar satu menit. Enam belas anggota Nazi dan tiga polisi terbunuh. Göring tertembak di pahanya. Hitler menderita di bahunya ketika orang yang melindunginya dengan saling berpegangan tangan tertembak dan menariknya jatuh ke trotoar.

Pengawal pribadi Hitler, Ulrich Graf, melompat ke arah Hitler untuk melindunginya dan menerima beberapa peluru, yang menyelamatkan nyawa Hitler. Hitler kemudian merangkak sepanjang trotoar keluar dari daerah tembak-menembak dan berlari menuju ke mobil yang telah menunggu, meninggalkan teman-temannya di belakang. Anggota Nazi tercerai berai dan ada yang tertangkap. Ludendorff, dengan gagah berani, berjalan lurus sepanjang garis pertempuran ke arah polisi dan kemudian ditangkap.

Hitler terluka di rumah temannya, keluarga Hanfstaengl, dilaporkan bahwa disana dia dinasehati untuk tidak bunuh diri. Dia menjadi sangat sedih dan mengira akan ditembak oleh penguasa. Dia menghabiskan dua malam bersembunyi di loteng kecil keluarga Hanfstaengl. Pada malam ketiga polisi datang dan menangkapnya. Dia di bawa ke penjara di Landsberg, di sana semangatnya bangkit kembali setelah diberitahu bahwa dia akan mendapakan pengadilan publik.

Dengan gagalnya revolusi Nazi, tampak bagi para pengamat bahwa karir politik Hitler dan pergerakan Nazi telah hancur, merupakan akhir yang menggelikan.


Sumber :



Cat Kamuflase Mesin Perang


Upacara penganugerahan medali Das Reich yang diselenggarakan di Kharkov, Ukraina, tanggal 20 April 1943. SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Walter Krüger (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Division "Das Reich") berdiri di atas Panzerkampfwagen VI Tiger #812 "Tiki" dengan SS-Untersturmführer der Reserve Alois Kalss nongkrong di atas cupola, sementara di bawahnya (memakai stahlhelm) adalah SS-Obersturmbannführer Otto Kumm (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment "Der Führer"). Tiger "Tiki" berasal dari 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment "Das Reich", dan mendapat baluran cat dasar Dunkelgrau (RAL 7021) yang ditimpa oleh Dunkelgelb (RAL 7028), sesuai dengan order tertanggal 18 Februari 1943. Sd.Kfz. 7/1 di latar belakang belum belum mendapat jatah cat kamuflase baru untuk menggantikan versi yang musim dingin karena persediaan cat yang ada diprioritaskan untuk digunakan oleh panzer-panzer milik Das Reich. Foto ini sendiri diambil oleh SS-Kriegsberichter Friedrich Zschäckel 


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org

Wednesday, December 17, 2014

Kisah Lucu, Unik dan Menarik tentang Luftwaffe


Oberfeldwebel Heinrich "Heinz" Bartels (13 Juli 1918 - 23 Desember 1944) adalah jagoan udara Luftwaffe asal Austria dari Jagdgeschwader 5 (JG 5) "Eismeer" yang terkenal jahil dan tukang nenggak miras. Dia dipindahkan dari JG 5 ke JG 27 karena ulahnya yang bisa dibilang kelewatan. Inilah ceritanya yang diambil dari buku "Abschuss!: Von der Me 109 zur Me 262" karya rekan seperjuangan Bartels, Walter Schuck:
Awalnya adalah peristiwa yang terjadi di bulan November 1942 di lapangan udara Petsamo yang menjadi markas III./JG 5. Malam itu Bartels mabok berat setelah nyekek botol Cognac selama berjam-jam. Dia mendatangi kamar Schuck, membangunkannya, dan memaksanya untuk minum Cognac bersamanya sambil setiap kali menumpahkan minuman keras tersebut ke medali Ritterkreuz milik Schuck yang baru diperolehnya dengan alasan untuk "membaptisnya". Sementara itu di luar kamar, wingman Bartels yang tak terpisahkan - Kurt Dylewski (yang juga sama-sama dalam pengaruh minuman keras) - bermain gitar sambil bernyanyi keras-keras, lagu yang ora nyambung dengan nada, dengan suara yang luar biasa sumbang! Setelah meninggalkan Schuck (dan tiga botol Cognac kosong), Bartels melakukan aksi-aksi mabok yang lebih gila: pertama, dia berusaha mencuri sebuah truk, tapi supirnya telah mengambil kunci kendaraan tersebut. Sang supir membangunkan Bartels dan mengeluarkannya dari kabin truk sambil memukulinya. Setelah menyadari bahwa orang yang dipukulnya adalah seorang pahlawan peraih Ritterkreuz, si supir menjadi panik dan buru-buru kabur ke mess prajurit untuk pura-pura tidur. Bartels yang emosi mengikutinya sampai ke barak berdasarkan petunjuk sepatunya yang basah dan kotor. Setelah menemukannya Bartels langsung memukuli orang yang tidur di sebelah sepatu tersebut, padahal "oknum" yang asli tidur di bagian atas dan selamat dari amukan Bartels! Setelah itu, sang pilot mabok beserta wingman-nya menginvasi barak sipil yang bersebelahan yang diisi oleh wanita-wanita Lapland lokal yang dikerjakan untuk membantu tugas kebersihan dan mencuci di Petsamo. Bartels membuka setiap selimut tidur mereka dan setiap kali dia bersorak dengan aksen Austrianya yang kental: "Pfui Teifi, A so a brutaler Wahnsinn, s'stinkt furchtbor noch Kas! Ois Kas, gonz a oiter Kas!" (Wow! Benar-benar bau keju disini, bau keju yang sudah lama disimpan!) - orang-orang Laplander yang semi-nomadik memang terkenal mempunyai bau badan yang menyengat. Masih belum berniat untuk menyerah, bartels mendatangi kandang kuda dan mengeluarkan seekor bagal. Dia membawa bagal tersebut ke tempat peristirahatan "Spieß" (Sersan Kompi) dari Staffel-nya, dan membuatnya setengah berdiri di depan kamar tidur sang sersan. Sebagai seorang mantan tukang jagal di masa sebelum perang, Bartels tahu bagaimana memperlakukan binatang "selayaknya". Pada akhirnya bagal malang tersebut mengisi penuh ranjang si sersan dengan tokay hangat! Setelah itu, akhirnya Bartels keluar dan pergi tidur. Hal ini benar-benar tak bisa ditolerir, bahkan bagi JG 5 yang pilot-pilotnya biasa menembak dinding barak untuk membangunkan rekan mereka yang tidur ngorok! Gruppenkommandeur Horst Carganico langsung menyeret Bartels untuk diajukan ke Mahkamah Militer. Hanya status pahlawan serta peraih Ritterkreuz-lah yang menyelamatkan leher Bartels dan - alih-alih dipenjara - dia dipindahkan dari Arktik ke Yunani di unit yang berbeda



Sumber :
www.forum.il2sturmovik.com

Tuesday, December 16, 2014

Situasi Politik Jerman Menjelang Meletusnya Perang Dunia II




Oleh : Fachrizal

Sebelum Ribbentrop tiba di Moscow untuk menandatangani Pakta Nazi-Soviet, Inggris telah bereaksi terhadap berita tentang perjanjian itu yang telah bocor.

Pakta itu tidak mengubah apapun sejauh pemerintahan Inggris masih peduli dan hal itu diberitahukan pada Adolf Hitler. Perdana Menteri Neville Chamberlain mengirimi Führer sebuah surat pribadi yang memperingatkan dia bahwa jika Nazi menyerbu Polandia, Inggris akan “mengerahkan dengan segera semua kekuatan angkatan bersenjata di bawah perintah mereka, dan adalah mustahil untuk meramalkan akhir permusuhan saat sekali ditautkan…”

Surat itu dikirimkan pada Hitler di Berchtesgaden tanggal 23 Agustus oleh duta besar Inggris Nevile Henderson dan membuat Hitler menjadi naik darah seperti biasanya. Pada titik ini, Hitler telah meyakinkan para jenderalnya bahwa Inggris dan Perancis tidak akan berperang atas Polandia. “Orang-orang yang kuketahui di Munich adalah bukan orang yang akan memulai perang dunia baru,” Hitler membual dalam konferensi militer di Berchtesgaden.

Selama tahun 1939, Hitler semakin banyak menghabiskan waktunya di puncak gunung Berchtesgaden tempatnya menyepi mencoba untuk memikirkannya dengan hati-hati. Sejauh ini dalam karirnya, dia adalah master catur dalam panggung Eropa, merendahkan dan menipu semua lawannya, selalu selangkah atau dua langkah lebih maju dari lainnya.

Tetapi sekarang permainan telah berubah. Bukan lagi merupakan gertakan atau keberanian. Hal itu telah berubah menjadi ancaman perang yang nyata, yang menyangkut nasib jutaan manusia. Hitler mengancam berperang. Polandia mengancam berperang. Inggris dan Perancis mengancam berperang.

Bahkan Amerika juga terlibat. Presiden Franklin Roosevelt menerjang ke arah kekacauan itu dengan mengirim pertanyaan pada Hitler melalui telegram: “Apakah kamu akan memberi jaminan bahwa pasukanmu tidak akan menyerang atau menginvasi wilayah negara-negara merdeka berikut ini?” Roosevelt memberikan daftar 31 negara termasuk Polandia, negara-negara Baltik, Denmark, Belanda, Belgia, Perancis, dan Inggris.

Hitler memberikan jawaban dalam pidatonya kepada Reichstag dan menjamin ‘Herr Roosevelt’ bahwa Jerman hanya bermaksud damai dengan tetangganya. Jerman, kata Hitler, “tidak punya pemikiran untuk bertentangan dengan Polandia.”

Masalahnya adalah tak seorangpun di luar Jerman yang percaya lagi padanya. Hitler telah sering berbohong. Dan Hitler telah membuat kesalahan fatal dengan merendahkan dan mempermalukan pemimpin kerajaan Inggris, yang tidak akan pernah memaafkan dia untuk perbuatannya melanggar Perjanjian Munich. Inggris akan bertempur, mereka mengingatkan Hitler dan itu berarti perang dunia baru.

Tetapi walaupun telah diperingatkan berkali-kali, Hitler masih yakin bahwa Inggris akan mundur pada saat terakhir.

Masalah besar bagi Hitler pada titik ini dalam karirnya adalah bahwa egonya yang membengkak menutupi laksana kabut kecemerlangannya dalam politik internasional. Führer –si dewa Jerman, secara perlahan-lahan menyerah pada kepercayaan bahwa dia sempurna, jika dia mengatakan sesuatu hal adalah benar, maka hal itu harus benar. Dia menderita semacam gila kemuliaan dan itu menutupi pertimbangannya, membutakan dia pada kenyataan.

Bagaimanapun, tidak ada seorangpun yang tinggal di Jerman ingin mengatakan padanya bahwa dia salah, tidak ada yang ingin menanyakan apa yang dia katakan, tak peduli betapa anehnya hal itu.

Ketika Hitler mengumpulkan jenderal-jenderal tingginya pada tiga konferensi sebelum perang di tahun 1939, mereka mendengarkan dalam kebisuan dikte Führer, yang akan memberikan bencana terbesar dalam sejarah kemanusiaan.

Pada tanggal 23 Mei, 1939, Führer mengundang empat belas pejabat militer senior di Berlin termasuk Hermann Göring, Admiral Raeder, Jenderal Brauchitsch, Halder dan Keitel, dan menjelaskan pada mereka bahwa Jerman memerlukan perang karena ekonomi Reich berada dalam keadaan yang mengerikan. Dan memperbaiki ekonomi Jerman akan “mustahil tanpa menyerang negara lain atau menyerang hak milik orang lain.”

Bagi Nazi Jerman, pengadaan Lebensraum sekarang telah menjadi tuntutan ekonomi. Hal ini berhubungan dengan program pengadaan persenjataan besar-besaran oleh Hitler yang membanjiri sampai 23 persen produk nasional tahunan kotor Jerman. Hitler telah memerintahkan industri di Jerman untuk mengesampingkan semuanya dan mempersenjatai kembali negeri secepat mungkin. Sebagai hasilnya, tingkat tenaga kerja teknik di Reich mencapai 125 persen, yang berarti terjadi kekurangan tenaga kerja yang besar pada banyak pekerjaan yang tidak terisi, terutama dalam bidang pertanian. Hal ini terjadi walaupun keseluruhan populasi dari Reich yang besar mencapai 80 juta dengan tambahan penduduk Austria dan Czechoslovakia.

Ekonomi Nazi yang hanya condong pada satu sisi menuntun ke arah kehancuran kecuali jika segera dilakukan realokasi tenaga kerja dan bahan baku, atau, jika ada tambahan orang dan bahan yang didapat dari luar Reich. Hal inilah yang dipilih Hitler dan diberitahukan pada jenderal-jenderalnya pada tanggal 23 Mei.

Satu bulan kemudian, tanggal 23 Juni, Göring mengadakan rapat Dewan pertahanan Reich untuk mengkoordinir mobilisasi total sumber daya dan tenaga kerja Jerman untuk perang yang akan datang. Hitler tidak hadir, tetapi 35 pejabat sipil dan militer hadir termasuk Keitel, Raeder, Halder dan pemimpin SS Heinrich Himmler. Hitler, seperti telah diumumkan, memutuskan untuk mengerahkan tujuh juta orang untuk melayani angkatan bersenjata. Kekurangan tenaga kerja ditutup oleh pekerja paksa, memanfaatkan tawanan perang, bersama dengan tahanan dari kamp konsentrasi dan pejara-penjara. Pemimpin SS Himmler menyatakan bahwa “akan dibuat kamp-kamp konsentrasi dalam masa perang untuk penggunaan lebih besar.” Göring mengatakan bahwa “ratusan ribu ” pekerja Czech akan dibawa ke Jerman sebagai pekerja paksa di pertanian. Ini menandai permulaan dari program kerja paksa Nazi, dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah Reich yang tidak dipenuhi.

Pada akhir Agustus, jalan menuju penaklukan sudah disiapkan untuk Hitler melalui Pakta Non-Agresi dengan Stalin, memastikan bahwa Jerman tidak akan bertempur dalam dua front. Sementara Ribbentrop sedang berada di Moscow untuk menandatangani Pakta, dan tinta di kertas bahkan belum kering, Hitler mengumpulkan jenderal-jenderalnya di Berchtesgaden untuk rapat pra-perang terakhir guna memberi mereka lampu hijau untuk penyerangan ke Polandia.

Sekarang saatnya, Hitler mengumumkan “keputusan yang tak dapat diubah” untuk perang.

“Situasi ekonomi kita sudah sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan dapat bertahan lebih dari beberapa tahun. Göring dapat menegaskan hal ini. Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus bertindak,” kata Hitler. Sejauh ini, semua wilayah yang didapat Jerman adalah hasil dari “gertakan politik ” tetapi sekarang diperlukan untuk menggunakan mesin militer Jerman.”

“Aku akan memberi suatu alasan propagandis untuk memulai perang. Tidak peduli apakah itu masuk akal atau tidak. Pemenang tidak akan ditanyai setelahnya apakah dia mengatakan kebenaran atau tidak. Dalam memulai dan berperang tidak penting hal lainnya kecuali kemenangan.”

Dan bagaimana pasukannya bertindak dalam perang yang akan datang?

“Tutup hatimu untuk belas kasihan!” perintah Führer. “Bertindaklah dengan brutal! Delapan puluh juta orang harus mendapatkan hak mereka…Orang yang lebih kuat adalah yang benar…Jadilah kejam dan kasar! Berkeras hatilah terhadap semua tanda-tanda rasa kasihan!”

‘Alasan Propagandis’ Hitler untuk memulai perang telah dirancang oleh Himmler dan Heydrich atas permintaan Führer. Rencana itu begitu penting sehingga diberi kode nama Operasi Himmler dan meliputi serangan palsu SS yang seolah dilakukan angkatan bersenjata Polandia terhadap pasukan Jerman sepanjang perbatasan Jerman-Polandia. Di stasiun radio Gleiwitz, seorang Jerman yang berbicara dalam bahasa Polandia bekerja dengan SS akan merebut mikropon dan menyiarkan pidato yang berapi-api dalam bahasa Polandia yang menyatakan bahwa waktunya tiba bagi rakyat Polandia untuk bertempur melawan Jerman. Tahanan dari kamp konsentrasi yang diberi pakaian seragam angkatan bersenjata Polandia akan dibunuh dengan suntikan mematikan kemudian dilubangi dengan peluru dan ditinggalkan sebagai bukti penyerangan, yang kemudian akan disaksikan oleh pers.

Persiapan untuk Operasi Himmler berlangsung penuh, dengan penyerangan ke Polandia direncanakan Hitler untuk mulai pada jam 4:30 pagi. Pada hari Sabtu, 26 Agustus. Sebagai pembukaan serangan, mesin propaganda Goebbels berputar dengan cepat menyebarkan cerita tentang kekejaman yang dilakukan oleh orang Polandia terhadap sepuluh ribu etnis Jerman yang tinggal di Polandia.

Untuk beberapa bulan, jurnalis Nazi juga mencoba untuk mempersiapkan rakyat Jerman untuk perang yang tak terelakkan di Eropa. Mereka secara personal diinstruksikan oleh Hitler untuk membangun antusiasme untuk perang dan untuk melawan pesimisme warga sipil. Tetapi propaganda itu hanya mendapat sukses terbatas. Kebanyakan orang Jerman masih tidak ingin perang.

Menariknya, menjelang pertempuran, Jumat, 26 Agustus, Hitler kehilangan keberaniannya dan menunda seluruh serangan. Terdapat dua perkembangan diplomatik besar yang menggoncangkan kepercayaan Führer. Pertama, Hitler menjadi sadar bahwa Inggris dan Polandia telah menandatangani perjanjian tolong-menolong terhadap serangan Jerman. Kedua, Mussolini memberitahu Führer bahwa Italia tidak dipersiapkan untuk perang dan tidak akan bergabung dalam pertempuran, meskipun Pakta Baja militer telah ditandatangani dengan Jerman.

Sekitar pukul 6:30 malam hari itu, Hitler memanggil Jenderal Keitel ke istana kanselir Reich dan berkata kepadanya: “Hentikan semuanya dengan segera…Aku membutuhkan waktu untuk negoisasi.”

Di atas semua itu, Hitler ingin mencegah campur tangan militer Inggris, bahkan pada saat-saat terakhir. Nazi sekarang mencoba suatu saluran diplomatik pintu belakang, memanfaatkan teman Swedia Göring bernama Birger Dahlerus sebagai penengah informal. Göring mengirimnya ke London untuk mengatakan pada Sekertaris Menteri luar negeri Halifax bahwa Nazi berharap untuk mencapai semacam “pengertian” dengan Inggris. Halifax mengirimkan dia kembali ke Berlin dengan surat yang menyatakan bahwa Inggris masih mengharapkan semacam penyelesaian damai.

Göring berpikir bahwa surat dari Halifax cukup penting untuk disampaikan kepada Hitler secepatnya. Ditemani oleh Dahlerus, Göring tiba di istana kanselir di Berlin sekitar tengah malam pada hari Sabtu, 26 Agustus. Hitler, yang secara normal adalah manusia malam, telah siap pergi ke tempat tidur dan dibangunkan atas permintaan Göring.

Anehnya, Hitler tidak memperhatikan surat itu malah menanyai Dahlerus panjang lebar tentang sifat alami orang Inggris. Hitler, seperti banyak pemimpin tinggi Nazi, mengagumi dan membenci Inggris, tetapi tidak pernah dapat memahami mereka.

Dahlerus, yang tinggal dan bekerja di Inggris, membantu Führer dan bercerita tentang orang Inggris. Tetapi Hitler mulai bertindak aneh. Berdasarkan sebuah catatan yang kemudian di buat oleh Dahlerus, Führer “tiba-tiba berdiri, dan menjadi sangat gelisah, mondar-mandir…tiba-tiba dia berhenti di tengah ruangan dan berdiri di sana mematung. Suaranya tidak jelas, dan tingkah lakunya adalah sepenuhnya orang yang tidak normal. Dia berbicara dengan ungkapan: ‘Jika harus terjadi peperangan, maka aku akan membangun kapal U, kapal U, Kapal U, kapal U, kapal U’…kemudian dia menarik dirinya, meningkatkan suaranya seperti ditujukan pada pendengar yang banyak dan memekik: ‘Aku akan membangun pesawat terbang, membangun pesawat terbang, pesawat terbang, pesawat terbang, dan aku akan membasmi musuh-musuhku!’ “

Tanpa sepengetahuan Dahlerus, Führer punya alasan tepat untuk merasa begitu tidak tenang. Beberapa jam sebelumnya, dia dengan tiba-tiba mengubah pikirannya tentang penyerangan terhadap Polandia dan menelepon Panglima tinggi angkatan bersenjata, memerintahkan mempersiapkan semuanya untuk tanggal penyerangan baru, 1 September.

Dalam beberapa hari berikutnya, Dahlerus melakukan beberapa kali perjalanan antara Berlin dan London membawa proposal dan jawaban proposal pulang pergi, yang semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Nazi terutama menginginkan utuk mengambil alih Danzig dan Koridor Polandia, sedangkan Inggris menolak melakukan aapun yang tampaknya terlihat seperti Perjanjian Munich.

Hitler dan Ribbentrop juga menemui duta besar Henderson beberapa kali dan dengan sukses menggunakan dia untuk memaksa Polandia ke dalam semacam negoisasi menit-menit terakhir untuk perdamaian. Untuk tujuan propaganda, Nazi ingin menunjukkan pada dunia bahwa mereka ingin mendiskusikan penyelesaian damai dengan Polandia. Dalam kenyataannya, mereka dengan bebas membuat berbagai rintangan untuk mencegah perundingan yang berarti terjadi dan kemudian berkata bahwa Polandia enggan bekerja sama.

Di sepanjang perbatasan Jerman-Polandia, persiapan militer secara penuh sedang berlangsung untuk melancarkan serangan. Pada pukul 12:30 siang, hari Kamis, 31 Agustus, Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Jerman, Adolf Hitler, mengeluarkan Directive No. 1 untuk melakukan peperangan. Tujuan Hitler adalah menghancurkan Polandia dengan cepat melalui serangan kilat menyeluruh dan kemudian memutar pasukannya ke barat dan berhadapan dengan Inggris dan Perancis jika mereka menyerang Jerman dari barat. Dia masih tidak yakin apakah mereka benar-benar menghormati komitmen mereka pada Polandia.

Saat senja hari Kamis, satu juta limaratus tentara Jerman bergerak dalam posisi akhir untuk menyerang Polandia. Operasi Himmler mulai berjalan pada pukul 8 malam saat anggota SS berpakaian seragam angkatan bersenjata Polandia membuat serangkaian serangan palsu di perbatasan, termasuk di Gleiwitz tempat mereka mengambil alih mikropon radio dan berteriak dalam bahasa Polandia, “Rakyat Polandia, waktunya sudah tiba untuk perang antara Polandia dan Jerman!” Hitler sekarang mempunyai alasan untuk memulai perang.

Saat fajar hari Jumat pagi, 1 September, pasukan Jerman bergerak melintasi perbatasan menuju Polandia dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapan mereka. Angkatan bersenjata Polandia yang ketinggalan zaman melakukan perlawanan dengan berani tetapi dihancurkan tanpa belas kasihan oleh mesin militer Jerman yang luar biasa.

Pukul 10 pagi itu Hitler muncul di hadapan Reichstag di Berlin dan mengumumkan: “Malam ini untuk pertama kalinya tentara reguler Polandia melakukan tembakan di wilayah kita. Sejak pukul 5:45 pagi. Kita telah membalas tembakan itu, dan sejak sekarang bom akan dijawab dengan bom.”

Perang untuk Lebensraum yang selalu diinginkan Hitler akhirnya dimulai. Lima tahun, delapan bulan dan enam hari pertumpahan darah dan penghancuran terpampang didepan mata yang akan menyebabkan sekitar 40 juta orang terbunuh dan banyak peninggalan kebudayaan Jerman dan Eropa hancur. Rakyat Jerman telah menyerahkan kehendaknya pada satu orang dan dia akan menjerumuskan mereka ke dalam perang dunia baru untuk memenuhi ambisi gilanya.


Sumber :



Konferensi Münich (1938), Kemenangan Diplomasi Hitler atas Inggris




Oleh : Fachrizal

Adolf Hitler selalu percaya bahwa dia ditakdirkan untuk menderita kematian dini karena kesakitan yang hebat, sama seperti orang tuanya. Ayahnya roboh tiba-tiba suatu hari akibat pendarahan paru-paru ketika Hitler masih anak-anak. Kemudian Ibunya menderita sangat lama akibat kanker selama masa remaja Hitler.

Yakin bahwa dia tidak hidup sampai tua, Hitler ingin berperang lebih cepat untuk Lebensraum daripada terlambat, saat dia masih relatif muda dan bertenaga. “Aku lebih suka berperang saat aku berusia 50 daripada saat aku berusia 55 atau 60,” katanya berkali-kali. Dan waktu sekarang telah mengejarnya. Dia akan berusia lima puluh dalam satu tahun mendatang.

Walaupun dia telah mengambil alih Austria tanpa mengeluarkan tembakan, dia memutuskan keinginannya untuk “mendobrak” Czechoslovakia dengan kekuatan militer. Maka dia mengumpulkan jenderal-jenderal tingginya dan memerintahkan mereka untuk menyiapkan sebuah serangan pada republik demokratik kecil itu pada tanggal 1 Oktober 1938.

Tetapi perintah itu menggemparkan Staff Jenderal. Mereka tahu sebuah serangan ke Czechoslovakia mungkin akan meletus menjadi perang melawan Inggris dan Perancis, dan bahkan kemungkinan dengan Uni Soviet. Angkatan bersenjata Jerman pada saat ini tidak siap untuk perang semacam itu. Hanya ada 31 divisi yang bersenjata lengkap bersama dengan 7 divisi cadangan. Perancis sendiri mempunyai lebih dari 100 divisi sementara Czech mempunyai 45 divisi dan mempunyai benteng pertahanan sepanjang perbatasan Czech-Jerman.

Untuk meringkas semua permasalahan, Jenderal Ludwig Beck, Pimpinan Staff Jenderal, menulis analisa detail mengenai bencana militer jika Jerman menyerang Czechoslovakia. Beck memberikan laporan itu pada Jenderal Walther von Brauchitsch, Panglima angkatan bersenjata, menyarankan pada Brauchitsch untuk mengadakan rapat rahasia dari jajaran para jenderal untuk membahas hal itu.

Pada tanggal 4 Agustus 1938, pertemuan rahasia angkatan bersenjata benar-benar dilakukan. Beck membaca laporan panjangnya kepada para undangan. Mereka semua setuju sesuatu harus dilakukan untuk mencegah keruntuhan yang pasti. Beck berharap mereka mengundurkan diri bersama-sama saat itu juga. Tetapi tidak ada yang mengundurkan diri kecuali Beck, beberapa hari kemudian, yang merasa muak dengan keseluruhan situasi.

Hitler dengan segera menggantinya dengan Jenderal Franz Halder dan memastikan tidak ada berita yang bocor mengenai pengunduran diri Beck yang mendadak. Tanpa sepengetahuan Hitler, Jenderal Halder bersimpati kepada Beck tentang kebodohan rencana Hitler menyerang Czechoslovakia. Pada hari-hari berikutnya, Beck dan Halder membentuk kelompok konspirasi terdiri atas beberapa jenderal top, bersama dengan diplomat Ulrich von Hassell, Admiral Wilhelm Canaris yang merupakan kepala badan Intelejen Jerman, dan Kepala polisi Berlin, Graf von Helldorf.

Mereka merancang suatu rencana untuk menangkap Hitler pada saat dia memberi perintah untuk suatu invasi. Berdasarkan rencana mereka, Berlin akan diisolasi oleh unit khusus angkatan bersenjata untuk mencegah SS campur tangan. Unit lainnya, dibantu oleh anti-Nazi di kepolisian Berlin, akan menguasai bangunan penting pemerintah sementara pemimpin-pemimpin tinggi Nazi seperti Göring, Goebbels dan Himmler akan ditangkap. Jika semua ini berhasil, Hitler akan dibawa ke hadapan pengadilan khusus dan akan didakwa membawa Jerman menuju bencana militer.

Tetapi masih terdapat satu jika besar dalam keseluruhan rencana itu. Rencana itu hanya dapat berjalan jika Inggris dan Perancis mengambil sikap memerangi Hitler dan membuat dunia tahu bahwa mereka akan bertempur untuk melindungi republik Czech yang kecil. Hal ini akan meyakinkan rakyat Jerman bahwa kekalahan pasti terjadi jika Jerman menyerang Czechoslovakia dan akan menjadi pembenaran untuk menjatuhkan Hitler.

Untuk memastikan bahwa Inggris dan perancis memahami bagaimana besarnya yang dipertaruhkan, para konspirator mengirimkan wakil-wakilnya ke Inggris untuk secara rahasia memberitahu Perdana Menteri Neville Chamberlain bahwa Hitler merencanakan menyerang Czechoslovakia. Mereka juga menginformasikan pada Inggris bahwa mereka berniat menjatuhkan Hitler dan meminta Inggris dan Perancis mengambil sikap yang agresif secara terbuka menentang Hitler.

Bagaimanapun, masalah-masalah utama mencegah hal itu terjadi. Pertama, para utusan itu tidak dianggap serius oleh Inggris yang mengetahui mereka tidak dapat dipercaya sama seperti angkatan bersenjata Jerman yang telah dengan setia membantu Hitler sejak dia berkuasa pada tahun 1933. Kedua, Perdana Menteri Chamberlain mempunyai agenda perdamaian sendiri dalam pikirannya dan bermaksud melakukan negoisasi untuk mencegah perang Eropa berikutnya.

Perang dunia pertama tidak saja telah berakhir dua puluh tahun yang lalu dan telah menyapu bersih seluruh generasi muda di Inggris, Perancis, dan Jerman. Tidak ada seorangpun yang benar pikirannya akan melakukan perang di Eropa lagi – kecuali Hitler.

Setelah perang dunia pertama, Republik demokratik Czechoslovakia didirikan sekutu barat keluar dari sisa-sisa kerajaan Hapsburg. Tetapi Czechoslovakia terhambat dari hari ke hari oleh konflik serius diantara suku bangsa yang berbeda termasuk Czech, Slovakia, Hungaria dan lebih dari tiga juta suku bangsa Jerman.

Suku bangsa Jerman tinggal di bagian barat negeri itu yang dikenal sebagai Sudetenland, sebuah wilayah yang dikepung dari tiga sisi oleh angkatan bersenjata Hitler. Wilayah itu memiliki organisasi kuat yang pro-Nazi bernama Partai Jerman Sudeten dipimpin oleh guru senam bernama Konrad Henlein. Organisasi itu didanai dan diperintah langsung dari Berlin. Kebanyakan orang Jerman di Sudetenland adalah anggotanya. Seperti Jerman Austria, mereka telah lama merindukan untuk bergabung dengan bintang yang bersinar dari Jerman, Hilter.

Pada tanggal 28 Maret 1938, tidak lama setelah peristiwa Anschluss Austria, Henlein berkunjung ke Berlin dan diberitahu oleh Hitler untuk menimbulkan masalah di Czechoslovakia dengan membuat permintaan yang semakin meningkat atas nama Partai Sudeten Jerman “yang tidak dapat diterima oleh pemerintah Czech.” Strategi itu berjalan dengan baik. Setiap saat pemerintah Czech hampir memenuhi suatu tuntutan, Henlein menginginkan sesuatu yang lebih sehingga tidak ada persetujuan yang tercapai.

Selama musim panas tahun 1938, para penghasut Nazi di Sudetenland menyebabkan kerusuhan politik dan sosial sementara mesin propaganda Goebbels membiayai kampanye anti-Czech ganas yang menyatakan bahwa warga Sudeten Jerman telah dianiaya oleh orang-orang Czech. Pada rapat umum tahunan di Nuremberg awal September, Hitler dan Göring melakukan pidato mengancam yang disebut pertanyaan Sudeten.

Dengan Jerman berada di tepi peperangan, Perdana Menteri Inggris yang berpikiran damai memutuskan untuk mengirimkan telegram pribadi pada Hitler meminta untuk bertemu muka dalam suatu pertemuan “untuk mencari penyelesaian damai.” Hitler benar-benar dikejutkan dengan permintaan itu dan dengan segera menyetujui pertemuan.

Maka, pada pagi hari tanggal 15 September 1938, Neville Chamberlain, 69 tahun, naik pesawat terbang untuk pertama kali dalam hidupnya dan meninggalkan Inggris. Tujuh jam kemudian dia tiba dengan mobil di Berchtesgaden dan bertemu dengan Hitler untuk pertama kalinya. Führer membawanya ke villanya dan naik ke ruangan besar dengan jendela besar dan pemandangan pegunungan Alpen.

Enam bulan sebelumnya, Kanselir Austria telah berjalan di ruang yang sama berharap melakukan negoisasi dan telah didesak tanpa belas kasihan. Kali ini, Hitler sekali lagi mendominasi keseluruhan diskusi, tetapi dengan hati-hati menghindari taktik bersikap kasar yang dia gunakan sebelumnya. Chamberlain, betapapun, adalah kepala pemerintahan kerajaan Inggris, satu dari kekuatan besar yang pernah dikenal di dunia. Kepada Perdana Menteri Inggris, Hitler mengadu sedemikian panjang tentang “peenganiayaan” warga Sudeten Jerman di dalam negeri Czechoslovakia dan kemudian secara terus terang meminta jika wilayah Sudetenland dapat diserahkan kepada Jerman.

Chamberlain menanggapi bahwa dia akan mempertimbangkan bertanya pada pemerintahan Czechs untuk menyerahkan Sudetenland tetapi dia tidak siap memberikan jawaban pada saat itu dan terlebih dahulu harus berkonsultasi dengan kabinetnya di London. Dia meminta Hitler untuk menahan diri dari setiap tindakan militer sampai dia kembali pada kunjungan berikutnya. Hitler setuju untuk menangguhkan tindakan militer.

Chamberlain kembali ke London dan berhasil mendapatkan persetujuan pemerintahannya untuk memberikan Sudetenland. Dia juga mendapat tanggapan yang baik dari sekutu Inggris di Perang Dunia I, Perancis.

Mengenai kesan pertamanya tentang Hitler, Chamberlain berkomentar: “Dalam kebengisan dan kekerasannya yang kulihat di wajahnya, aku mendapat kesan bahwa orang itu adalah orang yang dapat dipercaya manakala telah berkata.”

Sementara itu, dibelakangnya, Hitler melanjutkan rencana peperangannya. Wakil dari Polandia dan Hungaria secara rahasia didekati oleh Nazi dan ditanya apakah mereka masing-masing menginginkan bagian dari Czechoslovakia sebagai imbalan membiarkan Hitler menyerang negara itu. Pemerintahan militer Polandia, bersama dengan pemerintahan Fasis Hungaria, setuju untuk tinggal diam dan membiarkan Hitler menyerbu Czechoslovakia sebagai balasan untuk pembagian barang rampasan itu.

Inggris dan Perancis, yang telah melakukan persetujuan diantara mereka untuk memberikan Hitler wilayah Sudetenland, sekarang berselisih dengan pemerintah Czech. Pada tanggal 19 September, duta besar Inggris dan Perancis di Prague dengan kejam menasehatkan kepada pemerintahan Czech bahwa mereka harus menyerahkan seluruh wilayah di sepanjang perbatasan Jerman yang 50 persen atau lebih populasinya adalah orang Jerman. Pemerintah Czech, menyadari bahwa telah ditinggalkan oleh sekutu barat, dengan enggan menyerah dan menyetujui hal itu.

Pada tanggal 22 September, Chamberlain yang optimis kembali ke Jerman untuk menemui Hitler, kali ini di sebuah hotel di Godesberg sepanjang sungai Rhine. Perdana Menteri itu memberitahukan pada Hitler bahwa dia akhirnya dapat memiliki Sudetenland, seperti yang diinginkannya.

“Apakah aku mengerti bahwa pemerintahan Inggris, Perancis, dan Czech telah setuju memindahkan Sudetenland dari Czechoslovakia ke Jerman?” Hitler bertanya padanya.

“Ya,” jawab Chamberlain sambil tersenyum.

“Aku sangat menyesal,” Hitler menangggapi, “tetapi itu tidak cukup lagi…solusi ini tidak lagi digunakan.”

Chamberlain menjadi bingung, harapannya untuk perdamaian yang mudah mendadak hancur. Hitler sekarang menaikkan taruhannya dengan menginginkan pendudukan angkatan bersenjata Jerman di Sudetenland pada tanggal 1 Oktober dan pengusiran semua penduduk non-Jerman yang tinggal disana.

Chamberlain, sangat dikejutkan oleh perubahan situasi yang berbahaya ini, memberitahu Hitler bahwa itu sama dengan ultimatum militer dan mengatakan bahwa Czech tidak akan menyetujui syarat itu. Tetapi Hitler berkata dia tidak peduli. Czech harus menyetujui pendudukan angkatan bersenjata, atau tidak.

Perdana Menteri Inggris telah menjadi korban kedua dari diplomasi gangster Hitler. Dia telah mempertaruhkan seluruh karir politik dan martabat kerajaan Inggris untuk menenangkan Hitler, hanya untuk dengan kasar ditolak tanpa alasan yang jelas.

Chamberlain kembali ke rumah dengan kekecewaan mendalam untuk merenungkan apa yang harus dilakukan tentang hal itu. Perancis, saat mendengar ultimatum Führer, mengerahkan seratus divisi angkatan bersenjata dan mulai bergerak menuju perbatasan Perancis-Jerman. Angkatan bersenjata Czech yang terdiri atas satu juta orang dikerahkan. Inggris juga meletakkan armada angkatan lautnya dalam keadaan siaga dan menyatakan keadaan darurat di London.

Eropa, tampaknya, akan dibawa menuju peperangan. Ini merupakan kabar baik bagi konspirator anti Hitler di Jerman. Segalanya berjalan sesuai dengan harapan mereka, dan mereka menyiapkan serangan terhadap Hitler di Berlin secepat dia memerintahkan menyerbu Czechoslovakia.

Menariknya, Hitler mencoba meningkatkan dukungan populer untuk perang yang akan datang dengan menggelar parade satu divisi angkatan bersenjata sepanjang jalanan Berlin. Tetapi sepanjang rute parade masyarakat berbalik atau berlindung di toko-toko terdekat dan jalan masuk kereta bawah tanah. Führer berdiri di balkon istana Kanselir Reich mengamati pasukannya. Tetapi setelah melihat hanya sedikit masyarakat yang peduli melihatnya, Hitler kembali masuk ke dalam.

Sekitar dua dekade sebelumnya, pada awal Perang Dunia I, kerumunan masyarakat memenuhi jalanan Berlin untuk memberi semangat pada prajurit-prajurit muda mereka dan menaburkan bunga saat mereka berbaris didepan mereka. Sekarang, tak ada yang menyambut. Masyarakat Jerman jelas tidak ingin ada perang lain, dan Hitler mengetahui hal ini.

Sebagai hasilnya, Hitler memutuskan untuk mundur dan menunda perang demi Lebensraum untuk sementara. Dia mengirim surat pada Chamberlain menjanjikan bahwa jika sekutu barat menyerahkan Sudetenland kepada angkatan bersenjata Jerman, tidak akan ada penghancuran Czechoslovakia. Jerman bahkan dengan bangga bergabung dengan Inggris dan Perancis dalam menjaga seluruh Czechoslovakia dari segala agresi lebih lanjut.

Chamberlain memutuskan menyambar kesempatan terakhir ini untuk menyelamatkan perdamaian. Dia mengirimkan telegram kepada Hitler bahwa dia siap kembali untuk pembicaraan lebih banyak “seketika.” Dia juga mengirim telegram pada pemimpin Fasis Italia, Benito Mussolini, memintanya untuk menjadi perantara dengan Hitler atas namanya. Mussolini kemudian menghubungi Hitler dan mengajukan suatu pertemuan puncak yang terdiri atas Jerman, Inggris, Perancis, dan Italia. Hitler setuju. Lokasi yang dipilih adalah Munich.

Sebelum meninggalkan Inggris untuk perjalanan ketiganya dan yang terakhir ke Jerman, Chamberlain menyatakan: “Ketika aku masih anak-anak, aku selalu mengulang-ulang, ‘Jika kamu gagal, coba, coba, coba lagi.’ Itulah yang aku lakukan. Saat aku kembali kuharap aku dapat mengatakan, seperti yang dikatakan Hotspur pada Henry IV, ‘Keluarkan duri ini, berbahaya, kita memetik bunga ini, dengan aman.’ “

Pertemuan Munich bertempat di bangunan baru Nazi yang disebut Führerbau pada tanggal 29 September dan berlangusng sampai pagi hari tanggal 30. Dihadiri oleh Hitler, Chamberlain, Mussolini, dan Perdana Menteri Perancis, Edouard Daladier. Perwakilan Czech juga hadir tetapi menunggu di luar ruangan pertemuan karena Hitler menolak mereka masuk untuk berpartisipasi.

Pada pertemuan itu, Mussolini berkata bahwa dia mempunyai suatu usulannya sendiri yang mungkin dapat membantu memecahkan masalah dengan cepat. Tanpa diketahui Chamberlain dan Daladier, usulan itu telah diberikan pada Mussolini oleh Nazi dan pada dasarnya sama dengan keinginan ultimatum Hitler. Bagaimanapun, Chamberlain dan Daladier menerima usulan itu tanpa keraguan dalam keinginan besar mereka untuk menghindari pertumpahan darah.

Sekitar pukul 1 siang pada tanggal 30 September, empat pemimpin menandatangani Perjanjian Munich yang mengizinkan angkatan bersenjata Jerman untuk menduduki Sudetenland dimulai pada tanggal 1 Oktober, berakhir pada 10 Oktober. Sekitar pukul 1:30 siang. Perwakilan Czech diberitahu isi perjanjian itu oleh Chamberlain dan Daladier. Mereka tidak mengatakan apa-apa dalam hal itu dan tidak punya pilihan selain harus mematuhi.

Saat kembali di London, Chamberlain menyatakan: “Penyelesaian dari masalah Czechoslovakia yang sekarang telah dicapai adalah dalam pandanganku hanya permulaan dari penyelesaian besar tempat seluruh Eropa dapat menemukan kedamaian.”

Sedikit politisi Inggris yang tidak setuju. Winston Churchill menyuarakan protes tunggal terkeras, menyebut Perjanjian Munich sebagai “suatu total, kekalahan sempurna.”

Kembali di Jerman, jenderal-jenderal angkatan bersenjata yang telah menyiapkan untuk menyingkirkan Hitler menyerah dalam kecemasan yang sangat. Semua rencana yang bertujuan menjatuhkan Hitler ditangguhkan. Para jenderal sekarang menghentikan diri mereka untuk mengikuti Hitler membawa Jerman ke dalam jurang yang membentang di depan.

Pada hari Sabtu, 1 Oktober, angkatan bersenjata Jerman bergerak menuju Sudetenland sesuai jadwal. Banyak orang Czech yang tinggal disana lari dari rumah mereka dengan hanya pakaian yang melekat di badan.

Sekali lagi Hitler telah mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa mengeluarkan satu tembakan pun. Hebatnya, kali ini dia bahkan mengeluh. Dengan sangat jengkel, dia berkata: “Aku tidak berpikir itu mungkin bahwa Czechoslovakia akan secara nyata dihidangkan padaku di piring oleh teman-temannya.”

Mengenai kesannya pada sekutu barat, Hitler dikemudian hari berkata: “Musuh-musuh kami hanyalah cacing kecil. Aku melihatnya di Munich.”

Mengenai kesan terakhirnya pada Hitler, Chamberlain berkata: “Hitler adalah babi kecil biasa yang pernah kutemui.”

Tetapi sekarang, sukses demi sukses membuat Hitler dan Nazi mabuk kekuasaan. Mereka mulai berpikir bahwa mereka dapat melakukan apapun, bahkan menaklukkan dunia.

Tujuan utama Hitler untuk Lebensraum telah tercapai langkah demi langkah, seperti yang direncanakannya. Sekarang adalah waktunya untuk memusatkan perhatian pada tujuan keduanya, perhitungan dengan Yahudi. Selama ini, Nazi secara besar-besaran telah menahan perhatian opini internasional. Tetapi hal itu tidak berarti banyak lagi.

Dan begitulah, pada bulan November 1938, lima tahun kebencian yang terkurung telah lepas dalam suatu peristiwa yang membingungkan dunia dan menandai suatu permulaan dari apa yang disebut dengan Holocaust – Malam Pecahnya Kaca (Night of Broken Glass).


Sumber :



Rencana Adolf Hitler untuk Mengobarkan Perang Dunia II




Oleh : Fachrizal

Sejak awal karirnya sampai hari kematiannya, Adolf Hitler hanya mempunyai dua tujuan utama. Tujuan utamanya adalah tambahan secara paksa Lebensraum (ruang hidup) untuk rakyat Jerman. Kedua, dia menginginkan semacam perhitungan terakhir dengan bangsa Yahudi.

Langkah awal untuk menuju Lebensraum terjadi pada tahun 1935 ketika Hitler secara terbuka melanggar Perjanjian Versailles dengan memulai lagi wajib militer dan dengan cepat membangun kembali angkatan bersenjata Jerman. Hitler kemudian mengatur untuk merundingkan suatu pakta kelautan dengan Inggris yang akan mengizinkan Jerman memiliki angkatan laut 35 persen dari armada Inggris, dan juga armada kapal selam dengan jumlah yang sama.

Hitler menyadari bahwa para pemimpin dunia akan menjadi semakin gelisah saat Jerman dipersenjatai lagi, yang berperan dalam malapetaka perang dunia dua puluh tahun yang lalu. Hitler secara terus-menerus meyakinkan para diplomat, dan siapapun yang mendengarkan, bahwa pembangunan militer Jerman adalah semata-mata untuk pertahanan yang dirancang untuk menempatkan Jerman berdiri sejajar dengan negara di sekitarnya. Betapapun, dia akan bertanya, tidakkah negara Jerman mempunyai hak untuk mempertahankan diri seperti setiap negara lain?

Hitler akan menjawab pertanyaannya sediri dengan persetujuan sementara pada saat yang sama berjanji bahwa Jerman tidak akan merusak perdamaian. Untuk menekankan hal itu, Hitler mengucapkan beberapa pernyataan luarbiasa tentang kengerian perang, yang dia saksikan sendiri sebagai prajurit di garis depan. Pada tanggal 21 Mei1935, dia menyatakan dalam pidato utamanya: “Darah yang tumpah di benua Eropa pada pertempuran dalam tiga ratus tahun terakhir tidak menghasilkan sesuatu yang berarti bagi negara-negara yang terlibat dalam peristiwa itu. Pada akhirnya, Perancis tetap Perancis, Jerman Jerman, Polandia Polandia, dan Italia Italia. Betapa keangkuhan dinasti, nafsu politik dan patriotik buta telah tercapai dengan caranya yang nyata sejauh ini untuk mencapai perubahan politik dengan sungai darah, mengenai perasaan nasional, tidak lebih dari sekedar menyentuh kulit bangsa-bangsa. Hal itu tidak secara pokok mengubah karakter dasar mereka. Jika negara-negara telah melakukan perubahan dari pengorbanan mereka menuju tujuan yang lebih bijaksana, kesuksesan akan lebih besar dan lebih tetap.”

Para pemimpin Perancis dan Inggris, dan negara-negara kecil tetangga Hitler, secara alami terkesan dengan sentimen seperti itu. Bertahun-tahun kemudian, mereka akan menemukan bahwa pada saat Hitler berbicara seperti itu dia juga menyetujui Undang-undang Pertahanan Reich rahasia yang menempatkan Jerman dalam perang ekonomi dan menghidupkan kembali organisasi Staff Jenderal angkatan bersenjata, yang dilarang setelah Perang Dunia I.

Banyak diplomat secara ceroboh memegang kata-kata Hitler dan berpikir bahwa dia adalah orang yang meyakinkan, bahkan dapat dipercaya. Hal itu, tentu saja tepat seperti yang diinginkan Hitler untuk mereka pikirkan. Dia membuat mereka secara nyata berada pada keadaan yang merugikan, karena mereka tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan seorang yang secara terus-menerus menggunakan kebohongan sebagai alat untuk mencapai tujuan jangka panjangnya.

Hitler dapat melihat mata seseorang dan berbohong dengan penuh kesungguhan hati. Dia juga berbohong pada seluruh dunia melalui siaran radio, diakhiri pernyataan tentang keinginannya untuk perdamaian, bahkan dia sangat cinta perdamaian, semuanya itu dikatakan sementara secara rahasia menyiapkan malapetaka peperangan lainnya.

Rakyat Jerman dan pejabat tinggi Reich tidak mengerti seberapa dalam sinisme Führer mereka, tetapi mereka akan segera mengetahuinya cepat atau lambat. Bagi pejabat tinggi angkatan bersenjata Jerman pengungkapan rahasia itu datang pada tanggal 5 November 1937, ketika Hitler mengadakan suatu konferensi rahasia dan menguraikan rencananya untuk mendapatkan Lebensraum atas negara lain.

Rapat itu diadakan di dalam istana kanselir Reich di Berlin pada pukul 4:15 sore. Hebatnya, sebelumnya pada hari yang sama, Hitler bertemu dengan duta besar Polandia dan menandatangani perjanjian yang meyakinkan bahwa Jerman akan menghormati batas wilayah Polandia.

Hadir dalam konferensi rahasia adalah dua Panglima angkatan bersenjata Jerman; Marsekal Medan Werner von Blomberg, dan Jenderal Werner von Fritsch, Panglima angkatan darat. Juga dihadiri oleh Panglima angkatan laut Erich Raeder, bersama dengan Hermann Göring yang mengepalai Angkatan udara baru Jerman (diantara banyak jabatan lainnya). Menteri Luar Negeri Constantin von Neurath juga ada di sana, bersama dengan Kolonel Friedrich Hossbach, ajudan militer Hitler, yang mencatat menit-menit selengkapnya dalam pertemuan yang kemudian dikenal sebagai konferensi Hossbach atau Memorandum Hossbach.

Hitler memulai pertemuan empat jam itu dengan menanyai masing-masing orang untuk bersumpah dengan janji rahasia. Dia kemudian memberitahu mereka bahwa peristiwa kematiannya yang terlalu muda mungkin terjadi mengikuti hal yang akan diutarakannya sehingga harus dihormati keinginan terakhir dan surat wasiatnya.

Dia mulai penjelasannya dengan menjelaskan teorinya tentang Lebensraum, menyatakan bahwa Jerman mempunyai “suatu inti rasial yang padat ” dan bahwa orang Jerman berhak atas “ruang hidup yang lebih luas daripada masyarakat lainnya.”

“Sejarah dari berbagai zaman – Kerajaan Romawi dan Kerajaan Inggris – telah membuktikan bahwa perluasan hanya dapat dilakukan dengan mendobrak perlawanan dan mengambil resiko…tidak pernah ada ruang tanpa pemilik…penyerang selalu berhadapan dengan suatu penguasa,” Hitler menegaskan. “Pertanyaan untuk Jerman adalah: dimana dia mendapat yang terbesar dengan biaya rendah?”

Hitler menunjukkan dua halangan utama; “…dua musuh dibenci yang mengilhami, Inggris dan Perancis, yang bagi mereka Jerman di tengah Eropa adalah duri dalam daging…”

“Masalah [Lebensraum] Jerman hanya dapat dipecahkan oleh kekuatan,” kata Hitler, tetapi “masih tetap menyisakan pertanyaan ‘dimana’ dan ‘bagaimana’…”

Hitler ingin mengungkapkan persoalan Lebensraum pada tahun 1943 sampai 1945 pada saat akhir untuk menjaga terhadap kekunoan militer, usia pemimpin-pemimpin Nazi, dan, “waktu itu saat seluruh dunia masih menyiapkan pertahanan dan kita membantu penyerangan.”

Walaupun tujuan utama Hitler mendapatkan Lebensraum di Timur, bernama Russia, dia memusatkan seluruh konferensi pada tujuan pertamanya, penguasaan atas Austria dan Czechoslovakia untuk melindungi sayap timur dan selatan Jerman. Hitler menguraikan tiga strategi untuk mendapatkan hal ini, masing-masing dirancang berperan besar pada kelemahan politik dan militer Perancis dan Inggris.

Dalam skenario pertama, Hitler akan menunggu sampai tahun 1943 ketika pemulihan persenjataan selesai dan Perancis dan Inggris akan dengan kesulitan mengikuti. Yang kedua, dia akan bertindak cepat dengan mengamati masalah politik internal Perancis, menunggu peluang untuk menyerang Czechoslovakia pada saat Perancis dilemahkan oleh krisis utama seperti perang sipil. Ketiga, dia akan menyerang secepatnya pada tahun 1938 ke Austria dan Czechoslovakia jika Perancis jatuh dalam konflik militer dengan negara lain, seperti dengan sekutu baru Jerman, Fasis Italia.

Penjelasan Hitler yang dapat menyebabkan resiko dimulainya perang dalam skala besar di Eropa itu mengejutkan yang hadir, terutama Blomberg dan Fritsch yang, sesuai dengan catatan Hossbach, “berulangkali meyakinkan pentingnya Inggris dan Perancis tidak berperan sebagai musuh kita.”

Mereka tidak keberatan secara moral atas rencana perang Hitler tetapi hanya berdasarkan pertimbangan praktis. Jerman, dalam pandangan mereka, jauh dari siap untuk perang, dan bahkan pada tahun 1943 tidak akan cukup punya persenjataan.

Setelah konferensi, Neurath yang kebingungan pulang dan menderita serangkaian serangan jantung. Sementara itu, Blomberg dan Fritsch, tetap teguh menolak rencana Hitler. Reaksi mereka sepenuhnya tak dapat diterima oleh Führer dan dia memutuskan keduanya harus pergi. Untuk menyingkirkan dua jenderal itu, Hitler akan menyerahkan pada ahli pembuat jebakan, Himmler dan Heydrich.


Sumber :