Friday, November 21, 2014

Foto Berwarna Tawanan Perang

 Tentara Afrikakorps Jerman menerima pembagian jatah air minum di kamp tawanan perang yang dikontrol oleh Sekutu di Lembah El Guettar, Tunisia, tahun 1943. Pada bulan Februari 1943 pihak Poros meluncurkan serangan balasan besar terhadap US II Corps di barat-daya Tunisia. Manuver balasan 1st Armored Division tanggal 16 dan 17 Februari malah berujung pada kehancuran total dan divisi tersebut kehilangan dua dari batalyon tanknya serta 2.500 prajuritnya yang ditawan! Setelah 22 hari terlibat dalam pertempuran sengit, tentara Amerika direorganisasi ulang dan naiklah Jenderal George S. Patton ke tampuk pimpinan. Di bawah pimpinan jenderal baru yang enerjik ini 1st Armored Division dan 1st Infantry Division mendapatkan kembali semangat ofensifnya, sementara 9th Infantry Division bermetamorfosis dari unit yang masih hijau dan tak berpengalaman menjadi unit tahan-banting serta bisa diandalkan dalam pertempuran. Pertempuran El Guettar sendiri berlangsung antara elemen-elemen Heeresgruppe Afrika dibawah pimpinan Generaloberst Hans-Jürgen von Arnim - bersama dengan pasukan Italia dibawah komando Giovanni Messe - melawan US II Corps dibawah Lieutenant General George S. Patton. Pertempuran ini tercatat sebagai pertempuran pertama dimana pasukan Amerika berhasil mengalahkan unit-unit panzer Jerman yang lebih berpengalaman, meskipun pertempuran yang mengikutinya kemudian tidaklah menentukan. Foto ini diambil oleh fotografer LIFE Eliot Elisofon



 Foto jepretan Hugo Jaeger ini memperlihatkan para tawanan perang Jerman (kebanyakan bekas anggota Afrikakorps) hasil repatriasi yang baru tiba di negara mereka setelah menjalani proses pertukaran tawanan perang dengan Inggris, 1943. Konvensi Jenewa memberikan ketentuan tentang repatriasi (pemulangan kembali) semua tawanan perang bahkan saat permusuhan masih berlangsung. Pada tahun 1939-1945 ketentuan ini hanya berlaku bagi tawanan yang menderita sakit atau cacat. Mayoritas dari 40.000 orang prajurit Inggris - yang ditawan oleh Jerman antara tahun 1939 dan 1940 - baru mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam program pertukaran tawanan perang hanya setelah ratusan ribu prajurit Poros digaruk oleh Sekutu di Tunisia bulan Mei 1943. Negosiasi untuk hal ini sendiri sebenarnya telah diusahakan oleh Palang Merah Internasional dari akhir tahun 1940, hanya saja belum menemukan momentumnya yang tepat seperti tahun 1943. Pertukaran tawanan pertama antara kedua negara berlangsung bulan Oktober 1943


Sumber :
www.life.time.com

Thursday, November 20, 2014

Foto Schnelltruppen (Pasukan Cepat) dan Panzergrenadier (Infanteri Bermotor)

 Prajurit-prajurit Schnelltruppen (Pasukan Cepat) berhamburan keluar dari Hanomag Mittlere Schutzenpanzerwagen Ausf.D SdKfz 251/10 (latar belakang) dan halftrack SdKfz 251/1 (depan) untuk menyerbu sebuah desa Rusia yang terbakar di hari-hari pertama Unternehmen Barbarossa tanggal 26 Juni 1941. Ranpur SdKfz 251/1, dengan tiga buah senapan mesin MG 34 yang disandangnya, merupakan alat angkut lapis baja standar bagi pasukan infanteri dalam mengikuti cepatnya pasukan Panzer saat bergerak. Anggota Schnelltruppen (nantinya dinamai ulang menjadi Panzergrenadier tahun 1943) dilatih untuk bertempur di dalam kendaraan perang mereka atau setelah keluar darinya. Ranpur SdKfz 251/10 dipersenjatai dengan meriam PaK 36 37mm sebagai sarana anti-tank dan juga artileri ringan pendukung infanteri. Setiap Zug (peleton) Schnelltruppen dilengkapi dengan tiga SdKfz 251/1 dan satu SdKfz 251/10. Setiap SdKfz 251/1 dapat membawa serta 10 prajurit ditambah dengan dua supir/navigator. Saat pertempuran sedang berlangsung, maka kendaraan ini akan disimpan di belakang sebagai cadangan mobil. Saat mencapai sasaran, maka komandannya akan berteriak "Abspringen!" (mampret!) dan ke-10 prajuritnya akan mengambil dua MG 34 untuk membentuk Schützenkette (garis tembak) dengan senapan mesin di tengah dan pemimpin skuadnya mengarahkan di paling pinggir. 16.000 buah Hanomag SdKfz 251 diproduksi antara tahun 1939-1945 dan banyak dari kendaraan ini yang difungsikan secara berbeda seperti sebagai sarana anti serangan udara, peluncur roket atau lampu pijar. Meskipun hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa SdKfz 251 adalah sebuah kendaraan perang yang multi-fungsi, tapi dia juga secara tidak langsung mengalihkan fungsi utamanya sebagai kendaraan pengangkut pasukan. Hanya 1/3 Panzergrenadier yang menggunakan SdKfz 251 sebagai sarana saat bergerak, sementara sisanya menggunakan segala kendaraan yang ada, dari mulai truk, mobil ringan sampai ambulans!


Seorang Panzergrenadier berlindung di samping sebuah tank saat unitnya mendapat tembakan gencar pasukan Soviet dalam Pertempuran Stalingrad. Di latar belakang kita juga bisa melihat sebuah Panzerkampfwagen III yang terhenti oleh tembakan yang sama. Sang prajurit membawa sebuah Klappspaten (sekop lipat) yang pertama kali dikeluarkan tahun 1938, meskipun penggunaannya tak pernah benar-benar menggantikan kleines Schanzzeug (alat penggali kecil) yang lebih kaku. Tragbüchse für Gasmaske (kaleng silinder penyimpan masker) tahan air kadang-kadang dipakai untuk menyimpan rokok dan korek apinya sehingga dia disebut juga sebagai Zigarettenbüchse (kaleng rokok)! Tidak hanya itu, seringkali kaos kaki, gaiter atau peralatan tulis-menulis dijejalkan juga ke kaleng masker. Ini tentu saja dilarang, tapi tetap saja prajurit Jerman yang bertempur di front "ngeyel" dan penggunaannya menjadi sebuah hal yang umum terjadi!


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad

Foto Berwarna Finlandia dalam Perang Dunia II

 Foto yang sangat indah ini diambil bulan Agustus 1942 dan memperlihatkan Olavi Paavolainen (1903-1964), seorang pujangga Finlandia yang dalam Perang Dunia II ikut angkat senjata membela negaranya dalam perang melawan Uni Soviet. Dia menjadi anggota Departemen Informasi sebelum ditempatkan di Mikkeli, Finlandia timur, sebagai ajudan jenderal infanteri. Pada tahun 1944 dia mengunjungi kampung halamannya di Vienola, dan Paavolainen begitu sedih setelah mendapati rumah masa kecilnya telah rata dengan tanah akibat perang yang kejam


Sumber :
www.sa-kuva.fi

Wednesday, November 19, 2014

Foto Berwarna hasil Pewarnaan

 Seorang bocah anggota HJ (Hitlerjugend) berpose dengan sebuah Panzerfaust. Dari lencana di lengannya diketahui bahwa sang "Hitler-knabe" (bocah Hitler) ini berasal dari Ost Berlin yang bergabung dengan Volkssturm di akhir-akhir perang saat Jerman sudah diambang kekalahan. Panzerfaust sendiri dikenal sebagai salah satu senjata infanteri paling efektif dalam Perang Dunia II. Dia mudah digunakan dan beratnya juga ringan sehingga bisa dipakai oleh siapa saja, baik bocah kecil, orangtua atau wanita... cukup dengan pengenalan selama beberapa menit saja! Bazooka-nya Nazi Jerman ini sangat efektif dalam menghadapi kendaraan perang yang mempunyai lapisan baja tipis seperti ranpur atau tank ringan


Sumber :
www.histlo.com

Foto Berwarna Artileri Wehrmacht

 Foto ini diambil oleh Walter Frentz tanggal 4 April 1943 di Reichswerke Hermann Göring, Linz (Jerman), saat Hitler melakukan kunjungan sekaligus inspeksi ke Eisenbahngeschütz 80 cm Kanone Schwerer Gustav, artileri terbesar yang pernah dibuat manusia dalam Perang Dunia II! Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Ingenieur Erich Müller (Wehrwirtschaftsführer), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (tidak terlihat di foto ini, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)


Sumber :
www.ullsteinbild.de

Foto Schwerer Gustav dan Dora

 Foto ini diambil oleh Walter Frentz tanggal 4 April 1943 di Reichswerke Hermann Göring, Linz (Jerman), saat Hitler melakukan kunjungan sekaligus inspeksi ke Eisenbahngeschütz 80 cm Kanone Schwerer Gustav, artileri terbesar yang pernah dibuat manusia dalam Perang Dunia II! Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Ingenieur Erich Müller (Wehrwirtschaftsführer), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (tidak terlihat di foto ini, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)


Sumber :
www.ullsteinbild.de

Tuesday, November 18, 2014

Foto Alat Penggali Wehrmacht

KLAPPSPATEN

Seorang Panzergrenadier berlindung di samping sebuah tank saat unitnya mendapat tembakan gencar pasukan Soviet dalam Pertempuran Stalingrad. Di latar belakang kita juga bisa melihat sebuah Panzerkampfwagen III yang terhenti oleh tembakan yang sama. Sang prajurit membawa sebuah Klappspaten (sekop lipat) yang pertama kali dikeluarkan tahun 1938, meskipun penggunaannya tak pernah benar-benar menggantikan kleines Schanzzeug (alat penggali kecil) yang lebih kaku. Tragbüchse für Gasmaske (kaleng silinder penyimpan masker) tahan air kadang-kadang dipakai untuk menyimpan rokok dan korek apinya sehingga dia disebut juga sebagai Zigarettenbüchse (kaleng rokok)! Tidak hanya itu, seringkali kaos kaki, gaiter atau peralatan tulis-menulis dijejalkan juga ke kaleng masker. Ini tentu saja dilarang, tapi tetap saja prajurit Jerman yang bertempur di front "ngeyel" dan penggunaannya menjadi sebuah hal yang umum terjadi!


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad

Foto Kamuflase Perang Kota

 Awak meriam anti-tank PaK 38 50mm yang bercokol di bawah tangga bangunan teater musik Stalingrad ini sebagiannya diambil dari personil Luftwaffe, apa yang para Landser biasa namakan sebagai "Ersatz-Landser" (Prajurit Pengganti). Kamuflase yang digunakannya tidak biasa karena memanfaatkan rongsokan sekitar dan bukannya rerumputan seperti standar. Ini hal yang wajar karena Stalingrad adalah pertempuran kota dan bukannya pertempuran di hutan, desa atau stepa seperti biasanya terjadi di Front Timur. Kita bisa melihat lempengan besi, kotak kayu dan potongan keranjang yang tidak terpakai dalam foto ini, semuanya memberi kombinasi pengkamuflasean yang sulit dikenali dari jarak jauh!


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad

Foto Berwarna Amerika Serikat dalam Perang Dunia II

Pasukan Amerika dari 2nd Ranger Battalion (pimpinan James Earl Rudder) berbaris menuju Weymouth, sebuah kota pantai di selatan Inggris, dalam perjalanan menuju pelabuhan dimana mereka akan dinaikkan ke kapal pendarat untuk serangan besar D-Day tanggal 6 Juni 1944. Target mereka adalah sarang meriam raksasa yang terbuat dari beton di Pointe du Hoc, Normandia. Tugas yang dibebankan kepada mereka benar-benar berat: mereka harus mendaki tebing curam setinggi 30 meter di bawah tembakan musuh, lalu menyerang dan menghancurkan meriam di puncaknya yang mengarah ke tempat pendaratan di wilayah Omaha dan Utah. Para Ranger ini tidak menyadari bahwa meriam yang menjadi sasaran mereka telah dipindahkan sebelumnya, dan mereka dipaksa untuk masuk jauh lebih dalam demi menemukan senjata biang kerok tersebut demi membuatnya tidak berfungsi! Meskipun begitu, benteng pantai Pointe du Hoc tetap menjadi target serangan karena sebiji pengamat artileri depan Jerman yang bercokol disana dapat mengarahkan tembakan artileri akurat terhadap posisi pasukan Amerika yang mendarat. Pada akhirnya para Ranger ini berhasil menjalankan tugas yang dibebankan ke pundak mereka dan merebut benteng yang menjadi target mereka sekaligus menghancurkan meriam yang sudah kadung dipindahkan. Ternyata tugas tidak berakhir disini karena selama dua hari berikutnya mereka yang giliran mempertahankan benteng dan melayani serangan balik gencar yang dilancarkan oleh pasukan Jerman. Di akhir pertempuran batalyon ini telah kehilangan 60% prajuritnya yang menjadi korban!


Sumber :
Foto koleksi NARA (National Archives)
www.commons.wikimedia.org

Monday, November 17, 2014

Foto Atlantikwall

Sebuah meriam raksasa lintas-selat dari Batterie "Lindeman" di Sangatte, Pas-de-Calais, Prancis. Meriam SK C/34 dengan panjang 20 meter yang disandangnya berkaliber 406mm dan biasa dijuluki sebagai "Adolfkanone". Dibutuhkan peluru seberat satu ton dengan jangkauan 42km untuk umpan larasnya, meskipun dia bisa juga "disumpal" dengan peluru seberat 590kg dengan jangkauan lebih jauh, 56km! Meriam yang pertama kali dibuat oleh Krupp tahun 1934 ini sebenarnya diperuntukkan bagi turet kapal perang kelas H, tapi kemudian penggunaannya diperluas menjadi artileri pantai (Küstenartillerie). Marine Küstenbatterie "Lindemann" sendiri dilengkapi dengan tiga buah Adolfkanone yang dicomot dari Batterie Schleswig-Holstein di Polandia. Pada awalnya baterai pertahanan artileri pantai ini dinamakan sebagai "Großdeutschland", tapi kemudian dirubah menjadi "Lindemann" sebagai penghargaan terhadap Kapitän zur See Ernst Lindemann, Kapten Kapal Bismarck yang gugur tahun 1941. Foto ini diambil oleh Marine-Kriegsberichter Kuhn tanggal 19 September 1942 pada saat peresmian operasionalnya oleh Kapitän zur See Friedrich Frisius (Kommandant der Seeverteidigung Pas de Calais)


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org